Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Terus Melancarkan Serangan Mortir Terhadap Pasukan Ukraina

Sabtu, 21 Juni 2014 21:07 WIB
Image Print

Kiev, (Antara/AFP) - Ukraina, Sabtu, mengatakan pemberontak pro-Rusia terus melancarkan serangan-serangan mortir ke pasukan pemerintah di wilayah timur yang dikuasai pemberontak setelah menolak syarat-syarat gencatan senjata sepihak pemimpin pro-Barat. Dimulainya kembali aksi kekerasan dalam pemberontakan 11 pekan itu mengancam terpecahnya bekas negara Uni Sovyet itu sementara Washington memberlakukan sanksi-sanksi terhadap para pemimpin penting separatis dan memperingatkan Rusia untuk tidak mengirim pasukan ke Ukraina. Dan Rusia tampaknya meningkatkan ketegagan lebih jauh dengan menempatkan pasukannya dalam "siaga tempur penuh" dan memerintahkan pelatihan-pelatihan militer mendadak yang melibatkan sekitar 65.000 tentara. Para penjaga perbatasan Ukraina mengatakan pemberontak menggunakan penembak jitu dan serangan mortir ke salah satu pengkalan mereka di wielayah Donetsk di timur empat jam setelah Presiden Petro Poroshenko mengumumkan secara sepihak penghentian permusuhan yang telah menewaskan lebih dari 375 orang. "Tiga tentara cedera --satu luka parah-- dan peralatan militer hancur," kata badan penjaga perbatasan dalam satu pernyataan. Pernyataan itu menambahkan pasukan Ukraina membalas serangan ketika unit milisi yang sama melancarkan serangan kedua dekat satu pelintasan perbatasan berbeda beberapa menit kemudian. "Para penjaga perbatasan melepaskan tembakan dan membalas serangan itu," kata pernyataan Ukraina itu. Seorang juru bicara operasi anti-teroris" melaporkan pertempuran seru di sekitar kota pangkalan pemberontak Slavyansk sementara kementerian pertahanan mengatakan salah satu dari pangkalan-pangkalan anti-pesawat diserang oleh "50 orang berseragam militer". Poroshenko mengumumkan gecatan senjata sepihak selama sepekan Jumat petang sementara menegaskan bahwa "itu tidak berarti kami tidak akan membalas terhadap agresi pada pasukan kami." Perintah itu dan rencana perdamaian yang serentak itu diutarakan oleh presiden yang konglolomerat coklat berusia 48 tahun itu segera ditolak oleh sejumah komandan pemberontak dan kementerian luar negeri Rusia menyebutnya satu "Ultimatum." Usaha-usaha Poroshenko untuk menylesaikan krisis terburuk pasca-Sovyet bertambah rumit dengan penggelaran baru pasukan Rusia di sepanjang bagian perbatasan di mana pemberontak sering melakukan serangan-serangan. Presiden Rusia Vladimir Putin agaknya meningkatkan ketegangan lebih jauh Sabtu dengan memerintahkan pasukan yang berpangkalan di Pegunungan Ural dan Siberia barat berada dalam "siag tempur penuh" sebagai bagian dari pengecekan kesiapan yang tidak diumumkan. Kementerian pertahanan Rusia mengatakan pelatihan-pelatihan militer di wilayah luas yang terletak ujung paling berat 400km timur Ukraina itu akan melibatkan 65.000 tentara serta 60 helikopter dan 180 pesawat tempur. Baik Kiev maupun sekutu-sekutu Baratnya juga cemas akan kehaditan baru pasukan Rusia di perbatasan itu di tengah-tengah tuduhan-tuduhan arus senjata meningkat memasuki daerah-daerah yang dikuasai pemberontak dari wilayah timur yang banyak industri itu. Para pejabat Ukraina mengemukakan kepada Uni Eropa dan tim G07 di Kiev bahwa mereka punya bukti 10 tank tambahan dan truk-truk datang melintasi dekat perbatasan di kota Lugansk sejak Kamis. Satu sumber kementerian pertahanan Rusia mengemukakan kepada kantor berita RBK pekan ini bahwa pasukan itu siap memasuki wilayah-wilayah pemberontak Ukraina untuk melindungi penduduk sipil dari serangan tentara Ukraina. "Kami akan mengamati situasi itu dengan cermat. Kami tidak akan setuju penggunaan, dengan dalih apapun setiap pasukan militer Rusia di Ukraina timur," kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest. Laporan-laporan dari Moskow yang menyatakan bahwa kementerian pdrtahanan sedang mempertimbangkan pembentukan lingkaran penjagaan militer di Ukraina timur juga menjadi masalah." Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen Psaki mengatakan sebagian besar peralatan militer yang sedang dikumpulkan di Rusia barat daya tidak lagi digunakan oleh militer. "Kami yakin Rusia mungkin akan segera memberikan peralatan itu kepada para petempur separatis," kata Psaki. Kementerian Keuangan AS juga memasukkan dalam daftar hitam tujuh anggota separatis penting yang dituduhnya merupakan satu ancaman pada perdamaian dan kedaulatan negara Ukraina. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026