
PBB: Jurnalis Perlu Pelatihan Isu Perubahan Iklim

Jakarta, (Antara) - Jurnalis perlu pelatihan khusus isu perubahan iklim termasuk berbagai usaha mengurangi resiko dampak bencana terhadap masyarakat, demikian dikatakan juru bicara Kantor PBB Untuk Pengurangan Resiko Bencana (UNISDR) Wilayah Asia Pasifik Brigitte Leoni di Jakarta, Kamis. "Perubahan iklim dan bencana alam adalah isu yang berlangsung lama. Pelatihan untuk jurnalis adalah sebuah investasi jangka panjang untuk mengasah kemampuan mereka dalam melaporkan masalah perubahan iklim dan bencana alam," kata Leoni dalam Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana yang diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta. Menurutnya 20 tahun lalu hanya sedikit media yang melaporkan isu lingkungan. Namun ketika dampak perubahan iklim sudah semakin terasa dan banyak bencana alam yang terjadi di seluruh dunia, makin banyak media melaporkan mengenai isu tersebut. Namun Leoni mengingatkan tantangan yang dihadapi media saat ini adalah bagaimana melaporkan isu perubahan iklim atau bencana alam secara menyeluruh. "Bukan hanya kejadiannya saja tapi apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi dampak perubahan iklim tersebut," tambahnya. Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, dalam acara pembukaan Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana pada Kamis, mengimbau media agar tidak hanya menampilkan sisi dramatis paskabencana untuk menarik penonton. "Persaingan untuk menarik penonton saat ini membuat beberapa media memilih menampilkan sisi traumatis dan dramatis dari bencana. Media seharusnya tidak mengorbankan kepentingan publik untuk mendapat informasi menyeluruh mengenai bencana," kata Tifatul. Menurut Tifatul,peran media sangat penting tidak hanya dalam menyebarkan informasi mengenai bencana ke masyarakat tapi juga menjadi bagian dari solusi misalnya dengan mengumpulkan dana dari masyarakat untuk membantu korban bencana. Sementara itu Sekretaris Jenderal Asosiasi Broadcaster se-Asia Pacific (ABU) Javad Mottaghi menyampaikan harapannya agar pertemuan media yang diselenggarakan di Jakarta ini bisa memberi sumbangan positif dalam upaya mengurangi dampak negatif perubahan iklim. "Kami berharap forum ini bisa menjadi ajang tukar pikiran antar jurnalis tentang bagaimana melaporkan isu perubahan iklim. Kami juga mengharapkan akan ada proyek konkret setelah acara ini," kata Mottaghi. Pertemuan Media Untuk Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (Media Summit on Climate Change, ICTs and Disaster Risk Reduction) di selenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Asosiasi Broadcaster se-Asia Pasifik (ABU). Acara ini diikuti oleh ratusan jurnalis dan ahli komunikasi dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Inggris, India, China, Filipina, Thailand, Amerika Serikat, Bangladesh dan Vietnam. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
