Jakarta, (Antara) - Ketua Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso (APMISO) Tri Setyo Budiman mengatakan isu halal dan haram sangat mempengaruhi penjualan mi dan bakso di Tanah Air. "Misalnya pada kasus 2007, isu bakso daging babi. Hampir 80 persen pedagang bakso di Indonesia bangkrut karena isu tersebut," ujar Tri dalam konferensi pers di Kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Jumat. Begitu juga isu bakso daging babi pada 2012, pedagang pun mengalami kerugian yang tidak sedikit. Padahal, sambung dia, jika pedagang bakso bangkrut maka dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru yakni pengangguran. "Jumlah pedagang bakso mencapai tiga juta orang. Setiap harinya perputaran uang tidak sedikit," jelas dia. Untuk mengatasi hal tersebut, APMISO bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan proyek percontohan yakni sertifikasi halal bagi pedagang bakso. "Tahap awal, MUI memberikan sebanyak 100 sertifikat halal. Dengan proyek percontohan ini, kami harapkan bisa menangkis isu halal-haram tersebut," harap dia. Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI, Faisal Badrun, mengatakan pihaknya membantu pedagang mie dan bakso dalam menghadapi persoalan kehalalan. Melalui sertifikat halal tersebut, Faisal berharap pedagang bakso dapat berjualan dengan tenang tanpa khawatir diterjang isu-isu daging babi ataupun tikus. Sekretaris Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI M Azrul Tanjung menyebutkan pihaknya membina 250 pedagang bakso yang ada di Jakarta. MUI menggandeng Dewan Daging Nasional agar bisa memberikan daging yang murah kepada pedagang bakso, hal itu dilakukan agar pedagang bakso bisa mendapatkan harga daging yang murah. Jika harga daging murah maka harga makanan, seperti bakso dan rendang bisa lebih murah. (*/WIJ)

Pewarta : 34
Editor :
Copyright © ANTARA 2026