Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meminta seluruh mahasiswa yang sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk belajar mencermati setiap kasus stunting yang ada di daerahnya masing-masing.

“Jadi pada waktu di lapangan, mohon nanti dicermati di Posyandu-posyandu. Apabila ada yang terindikasi stunting harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Pada acara Pembekalan Pemahaman Pencegahan Stunting bagi Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (16/6) lalu Hasto menuturkan berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi angka stunting di Indonesia di angka  21,6 persen.

Sementara di Provinsi Jawa Tengah sendiri misalnya, angka stunting masih sebesar 20,8 persen dan sangat jauh dari target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo yakni menjadi 14 persen di tahun 2024.

Tingginya angka itu membuat pemerintah memerlukan bantuan dari semua pihak termasuk mahasiswa untuk menciptakan generasi yang unggul dan sehat ketika menikmati bonus demografi.

“Generasi sekarang 70 persen merupakan era bonus demografi, yang ke depannya akan menjadi generasi produktif. Akan tetapi bonus demografi ini akan terhenti pada tahun 2035, hal ini dikarenakan dependensi rasio sudah meningkat, maka penduduk usia lansia akan bertambah,” kata Hasto.

Sebenarnya, kata Hasto, bonus demografi ini sebenarnya akan bisa berlanjut, namun harus bersumber dari generasi muda yang unggul dan kelompok lansia yang sehat, berpendidikan dan produktif.

Oleh karenanya, Hasto mengajak semua mahasiswa untuk terlibat aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Selain mencermati kasus stunting, para mahasiswa juga harus menjaga diri tetap sehat dan menyebarkan edukasi terkait bahayanya seks bebas atau kawin dini pada usia sebayanya agar tidak melahirkan dan memicu kejadian 4Terlalu (kehamilan yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak).

Ia meminta supaya generasi muda lebih peka dan menjaga diri dari segala hal yang merugikan kesehatan reproduksinya, serta mencegah stunting sebagai upaya mewujudkan keluarga berkualitas di masa depan.

“Jangan sampai menua sebelum kaya. Dengan memanfaatkan bonus demografi, maka remaja sebagai penentu masa depan bangsa, harus memenuhi syarat sebagai sumber daya manusia unggul yaitu harus sehat, berilmu, mempunyai ketrampilan dan berkarakter yang baik. Pertama harus sehat, maka stunting itu harus dihindari,” ujar Hasto.

Sementara pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Eka Sulistia Ediningsih mengatakan selama di lapangan, para mahasiswa akan didampingi Tim Pendamping Keluarga dalam pelaksanaan percepatan penurunan stunting.

“Ada 27.000 Tim Pendamping Keluarga yang ada di Jawa Tengah, dan kami akan sampaikan ke pemerintah daerah dimana mereka KKN, bahwa ada sumber daya manusia yang akan membantu selama kurang lebih dua bulan. Sehingga misi agar turut mengawal penanganan stunting dari mulai kehamilan, bayi, remaja, calon pengantin, ibu hamil, menyusui, bisa tercapai dengan maksimal,” ujar Eka.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BKKBN minta mahasiswa KKN cermati kasus stunting di tiap daerah