Data BPS, penduduk miskin Solok Selatan bertambah 1.020 jiwa pada 2021
Rabu, 13 April 2022 14:26 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solok Selatan Abdul Razi. (Antara/Erik )
Padang Aro, (ANTARA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solok Selatan, Sumatera Barat Abdul Razi mengatakan jumlah penduduk miskin di kabupaten itu bertambah sebanyak 1.020 jiwa atau dari 12.390 jiwa pada 2020 menjadi 13.410 jiwa pada 2021.
"Kemiskinan di Solok Selatan pada 2021 yaitu 7,52 persen dari jumlah penduduk dengan pendapatan masih di bawah garis kemiskinan sebesar Rp438.442 per kapita per bulan," katanya di Padang Aro, Rabu.
Dia mengatakan, jumlah penduduk miskin Solok Selatan sebanyak 13.410 jiwa merupakan paling tinggi sejak lima tahun terakhir.
Jumlah penduduk miskin Solok Selatan pada 2017 sebanyak 11.890 jiwa kemudian turun pada 2018 menjadi 11.850 jiwa dan naik lagi menjadi 12.500 jiwa pada 2019 kemudian naik lagi pada 2020 menjadi 12.390 jiwa dan menjadi 13.410 pada 2021.
Perkembangan garis kemiskinan Solok Selatan dengan Rp438.187 perkapita per bulan masih di bawah Provinsi dan Nasional.
Sedangkan perkembangan persentase penduduk miskin Solok Selatan 7,52 persen di atas Provinsi dengan 6,63 persen dan di bawah nasinal yang mencapai 10,14 persen.
Sedangkan untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Solok Selatan di angka 69,23 dan sedikit naik dibanding 2020 yang 69,04 atau level sedang.
IPM Solok Selatan katanya, masih jauh di bawah rata-rata Provinsi yang mencapai 72,65 maupun Nasional di angka 72,29.
Dia menjelaskan, masih tingginya angka kemiskinan Solok Selatan karena kurang fahamnya masyarakat yang disurvei.
Sebagai contoh katanya, petani saat disurvei hanya menjawab pekerjaan yang menghasilkan upah sebagai pendapatan sementara hasil panennya sendiri malah tidak didata.
Dia menambahkan, pengeluaran rata-rata perkapita sebulan menurut kelompok makanan, jika diurut dari yang terbesar ada pada komoditas makanan dan minuman jadi yaitu sebesar 25 persen, di urutan kedua tembakau dan sirih yaitu sebesar 16 persen, kemudian urutan ketiga yaitu padi-padian sebesar 14 persen, serta untuk kelompok terkecil yaitu konsumsi lainnya sebesar 1 persen.
Pengeluaran penduduk untuk kelompok barang bukan makanan yang terbesar adalah perumahan, bahan bakar, penerangan, air, dengan besaran 38,30 persen, di urutan kedua yaitu aneka barang jasa, pendidikan dan kesehatan sebesar 23,99 persen, dan urutan ketiga barang tahan lama sebesar 20,34 persen sedangkan pengeluaran terkecil adalah untuk biaya keperluan pesta sebesar 1,51 persen. (*)
"Kemiskinan di Solok Selatan pada 2021 yaitu 7,52 persen dari jumlah penduduk dengan pendapatan masih di bawah garis kemiskinan sebesar Rp438.442 per kapita per bulan," katanya di Padang Aro, Rabu.
Dia mengatakan, jumlah penduduk miskin Solok Selatan sebanyak 13.410 jiwa merupakan paling tinggi sejak lima tahun terakhir.
Jumlah penduduk miskin Solok Selatan pada 2017 sebanyak 11.890 jiwa kemudian turun pada 2018 menjadi 11.850 jiwa dan naik lagi menjadi 12.500 jiwa pada 2019 kemudian naik lagi pada 2020 menjadi 12.390 jiwa dan menjadi 13.410 pada 2021.
Perkembangan garis kemiskinan Solok Selatan dengan Rp438.187 perkapita per bulan masih di bawah Provinsi dan Nasional.
Sedangkan perkembangan persentase penduduk miskin Solok Selatan 7,52 persen di atas Provinsi dengan 6,63 persen dan di bawah nasinal yang mencapai 10,14 persen.
Sedangkan untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Solok Selatan di angka 69,23 dan sedikit naik dibanding 2020 yang 69,04 atau level sedang.
IPM Solok Selatan katanya, masih jauh di bawah rata-rata Provinsi yang mencapai 72,65 maupun Nasional di angka 72,29.
Dia menjelaskan, masih tingginya angka kemiskinan Solok Selatan karena kurang fahamnya masyarakat yang disurvei.
Sebagai contoh katanya, petani saat disurvei hanya menjawab pekerjaan yang menghasilkan upah sebagai pendapatan sementara hasil panennya sendiri malah tidak didata.
Dia menambahkan, pengeluaran rata-rata perkapita sebulan menurut kelompok makanan, jika diurut dari yang terbesar ada pada komoditas makanan dan minuman jadi yaitu sebesar 25 persen, di urutan kedua tembakau dan sirih yaitu sebesar 16 persen, kemudian urutan ketiga yaitu padi-padian sebesar 14 persen, serta untuk kelompok terkecil yaitu konsumsi lainnya sebesar 1 persen.
Pengeluaran penduduk untuk kelompok barang bukan makanan yang terbesar adalah perumahan, bahan bakar, penerangan, air, dengan besaran 38,30 persen, di urutan kedua yaitu aneka barang jasa, pendidikan dan kesehatan sebesar 23,99 persen, dan urutan ketiga barang tahan lama sebesar 20,34 persen sedangkan pengeluaran terkecil adalah untuk biaya keperluan pesta sebesar 1,51 persen. (*)
Pewarta : Erik Ifansyah Akbar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana BPS RI Tinjau Pendataan di Padang Panjang
24 January 2026 9:11 WIB
Wako Fadly Amran : Data Sensus Ekonomi BPS 2026 jadi fondasi kebijakan pembangunan Padang
21 January 2026 16:08 WIB
Sekda Yudesri pimpin bimtek statistik sektoral daerah di BPS Kabupaten Pasaman
09 October 2025 16:44 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (09/02/2026) hari ini, simak daftarnya
09 February 2026 9:06 WIB
Minggu (08/02/2026) hari ini, Harga emas UBS Rp2,972 juta per gr, Galeri24 Rp2,958 juta per gr
08 February 2026 9:00 WIB