Solok (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Solok, Sumbar terus menggarap potensi hortikultura serta mengupayakan ekspor tanaman hias dan komoditi pertanian lainnya terutama hortikultura karena banyak potensi yang bisa dikembangkan dan bernilai komersil apabila dikelola dengan optimal.


Wakil Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra di Solok, Rabu, mengatakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menggali potensi hortikultura ialah menjalin kerja sama dengan CV Minaqu Indonesia  terkait ekspor tanaman hias dan komoditi pertanian lainnya.


“Karena potensi yang dimiliki, Kota Solok ibarat mutiara terpendam yang bisa digali dan dioptimalkan pemanfaatannya menjadi lebih bernilai ekonomis," ujar Dhani. 


Ia berharap semoga setelah menjalin kerja sama dengan CV Minaqu Indonesia ke depannya bisa menambah wawasan dan membuka cakrawala masyarakat Kota Solok supaya lebih produktif di semua lini.


Sebelumnya, Dinas Pertanian Kota Solok juga telah mengadakan temu teknis pengembangan tanaman hortikultura bersama Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan CEO CV Minaqu Indonesia.


Temu teknis tersebut dilaksanakan di Akmal Room Bappeda Kota Solok pada Senin (10/1). Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara wali Kota Solok, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan CV Minaqu Indonesia pada 28 Oktober 2021.


Chief Executive Officer (CEO) CV Minaqu Indonesia Ade Wardana dalam pertemuan tersebut mengatakan begitu mengagumi potensi alam yang dimiliki Kota Solok dan banyak potensi yang bisa dikembangkan dan bernilai komersil apabila dikelola dengan optimal.


“Sebagai gambaran, di luar negeri tanaman hias tropis banyak diminati, untuk mengembangkan tanaman hias tropis ini mereka membangun green house yang harus dilengkapi gas untuk meningkatkan suhu (pemanas), sementara di Indonseia kita memilik sumber panas yang tersedia setiap hari,” kata dia.  


Ia juga mengatakan semua elemen harus bergerak pastisipatif dan komitmen dalam menjawab setiap hambatan atau tantangan jika ingin menjadikan Kota Solok sebagai trader untuk semua sumber daya alam yang dimiliki. 


Semua bergerak aktif guna mencapai tujuan bersama yakni menembus pasar ekspor komoditi pertanian.


“Petani harus optimal memproduksi tanaman hias yang berkualitas standar internasional, perbankan harus berani berinvestasi diusaha tani, karena peluang pemasarannya sangat besar, disamping itu OPD terkait juga harus bisa memberikan spirit dan atensi, kita harus mampu saling mendukung,” katanya.


Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Liferdi Lukman mengatakan bahwa temu teknis ini adalah tindak lanjut dari MOU yang telah disepakati, diantaranya adalah kesepakatan dalam mengembangkan produk hortikultura dari hulu sampai dengan hilir.


Selain mengembangkan tanaman hias berorientasi ekspor, Kota Solok juga bisa menghimpun produksi pertanian lainnya dalam satu korporasi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar. 


“Walaupun lahan terbatas tapi Kota Solok bisa mengambil peran di bagian hilir atau pemasaran, Kota Solok bisa menjadi kota jasa seperti negara tetangga (Singapura) yang bisa mengekspor produk yang telah dihimpun dari daerah lain,” ujar dia.
 

Kementan RI juga siap mendampingi dan men-supervisi. Sementara itu, bagi petani pola ini sangat menguntungkan karena adanya kepastian atau jaminan pasar sehingga petani bisa fokus melakukan aktifitas produksi.


 

Pewarta : Laila Syafarud
Editor : Hendra Agusta
Copyright © ANTARA 2024