Sanaa, (Antara/AFP) - Orang-orang suku Yaman melancarkan serangan baru terhadap pipa saluran minyak, yang membuat pihak berwenang segera mengerahkan pasukan, sementara teknisi dihalangi untuk memperbaiki instalasi itu, kata sejumlah pejabat, Kamis. Serangan tengah malam itu, yang terjadi di daerah Sarwah di provinsi Marib, sekitar 170 kilometer sebelah timur ibu kota, Sanaa, merupakan yang kedua terhadap pipa minyak tersebut dalam waktu kurang dari dua pekan. Seorang pejabat mengatakan, orang-orang suku bersenjata juga memutuskan jalan yang menuju pipa minyak yang rusak itu untuk mencegah tim teknis datang ke tempat itu dan melakukan perbaikan. Pasukan Yaman dikerahkan untuk membuka lagi jalan tersebut, kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu. Orang-orang suku dari Marib berulang kali menyerang pipa minyak itu untuk menekan pemerintah pusat di Sanaa agar membebaskan beberapa rekan mereka yang ditahan. Pipa saluran yang mengarah ke Laut Merah itu memompa sekitar 125.000 barel minyak per hari sebelum diserang pada 24 Mei. Pada 13 Juni, seorang prajurit Yaman tewas dalam bentrokan dengan orang-orang suku yang menyerang pipa saluran itu dan menghentikan aliran minyak mentah, kata beberapa sumber. Pipa saluran sepanjang 320 kilometer itu menghubungkan ladang-ladang minyak Safer dengan pelabuhan Hodeida di kawasan Laut Merah, kata beberapa sumber suku kepada AFP. Pada Desember, militer meluncurkan ofensif terhadap orang-orang suku yang dituduh mendalangi serangan-serangan itu, menyulut bentrokan yang menewaskan 17 orang. Serangan-serangan pada pipa minyak juga dituduhkan pada gerilyawan Al Qaida dan semakin sering terjadi setelah pemberontakan 2011 yang menggulingkan pemerintah. Militan Al Qaida memperkuat keberadaan mereka di wilayah selatan, dengan memanfaatkan melemahnya pemerintah pusat akibat pemberontakan anti-pemerintah yang meletus pada Januari 2011. Ofensif pasukan Yaman yang diluncurkan pada Mei 2011 berhasil menghalau militan Al Qaida dari sejumlah kota dan desa di wilayah selatan dan timur yang selama lebih dari setahun mereka kuasai. Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan. Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka. Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu. Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari 2012 menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabuh Mansur Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida. (*/sun)

Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026