YLKI apresiasi arus kas BPJS Kesehatan surplus Rp18,7 triliun pada 2020
Senin, 8 Februari 2021 18:33 WIB
BPJS kesehatan gelar konferensi pers secara virtual. (Antarasumbar/Istimewa)
Padang (ANTARA) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengapresiasi arus kas Dana Jaminan Sosial (DJS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan untuk pembiayaan JKN-KIS pada 2020 surplus Rp18,7 triliun tanpa meninggalkan tunggakan pembiayaan klaim rumah sakit yang gagal bayar.
"Saya mengapresiasi atas prestasi ini karena merupakan akhir yang baik pada program JKN-KIS," ujar Ketua Pengurus Harian Tulus Abadi saat jumpa pers secara virtual dipantau di Padang, Senin.
Menurutnya faktor utama surplus ini disebabkan karena kenaikan jumlah iuran. "Untuk itu, saya juga memberikan penghargaan terhadap masyarakat Indonesia yang telah bersedia membayarkan iuran kesehatan," kata dia.
Selain itu, ia juga mengapresiasi pemerintah yang telah memberikan pelayanan kesehatan yang gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Ia menilai selain kenaikan iuran, surplus DJS tersebut juga disebabkan karena adanya tingkat kepatuhan masyarakat atau konsumen dalam pembayaran iuran kesehatan.
"Walaupun dalam kondisi pandemi COVID-19, tetapi konsumen telah melakukan pembayaran dengan tepat waktu," ucap dia.
Selain itu, ia menyebutkan pada akhir Desember 2020 tingkat kepatuhan masyarakat berkisar 48,27 persen, yakni meningkat dari Juli yang hanya 45 persen. Kendati angka kenaikannya kecil, menurutnya hal itu menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai sadar terhadap fungsi dan manfaat JKN-KIS.
"Walaupun masih kecil, namun ini sangat berpengaruh terhadap surplus DJS saat ini," kata dia.
Selain itu, ia mengatakan pada kondisi COVID-19 ini terlihat tingkat penggunaan fasilitas kesehatan peserta JKN-KIS menurun drastis karena banyak yang tidak menggunakan faskes dan layanan faskes ke rumah sakit. Hal itu disebabkan karena kecemasan konsumen akan terinfeksi COVID-19.
"Kemudian pada kondisi normal nanti tentu akan banyak masyarakat yang bertobat ke rumah sakit karena sudah merasa aman dari pandemi COVID-19, kami berharap masyarakat tidak panik karena meningkatnya iuran kesehatan," ucap dia.
Selain itu, ia berharap ke depannya BPJS kesehatan harus mampu memastikan pelayanan yang andal pada pengguna sehingga tidak ada lagi peserta BPJS kesehatan yang ditolak oleh pihak rumah sakit karena alasan ramainya yang berobat.
"Seperti seolah-olah rumah sakit penuh," ujar dia.
Kemudian adanya pasien yang disuruh bayar obat sendiri karena alasan tidak terdaftar, kata dia.
Tulus juga berharap tidak ada lagi antrean yang panjang saat berobat, fasilitas kesehatan terbatas, dan lain sebagainya.
"Selain itu, BPJS Kesehatan ke depannya diharapkan proaktif terjun dalam aspek preventif dan promotif. Sehingga menciptakan masyarakat hidup sehat melalui program JKN-KIS," ucap dia.
"Saya mengapresiasi atas prestasi ini karena merupakan akhir yang baik pada program JKN-KIS," ujar Ketua Pengurus Harian Tulus Abadi saat jumpa pers secara virtual dipantau di Padang, Senin.
Menurutnya faktor utama surplus ini disebabkan karena kenaikan jumlah iuran. "Untuk itu, saya juga memberikan penghargaan terhadap masyarakat Indonesia yang telah bersedia membayarkan iuran kesehatan," kata dia.
Selain itu, ia juga mengapresiasi pemerintah yang telah memberikan pelayanan kesehatan yang gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Ia menilai selain kenaikan iuran, surplus DJS tersebut juga disebabkan karena adanya tingkat kepatuhan masyarakat atau konsumen dalam pembayaran iuran kesehatan.
"Walaupun dalam kondisi pandemi COVID-19, tetapi konsumen telah melakukan pembayaran dengan tepat waktu," ucap dia.
Selain itu, ia menyebutkan pada akhir Desember 2020 tingkat kepatuhan masyarakat berkisar 48,27 persen, yakni meningkat dari Juli yang hanya 45 persen. Kendati angka kenaikannya kecil, menurutnya hal itu menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai sadar terhadap fungsi dan manfaat JKN-KIS.
"Walaupun masih kecil, namun ini sangat berpengaruh terhadap surplus DJS saat ini," kata dia.
Selain itu, ia mengatakan pada kondisi COVID-19 ini terlihat tingkat penggunaan fasilitas kesehatan peserta JKN-KIS menurun drastis karena banyak yang tidak menggunakan faskes dan layanan faskes ke rumah sakit. Hal itu disebabkan karena kecemasan konsumen akan terinfeksi COVID-19.
"Kemudian pada kondisi normal nanti tentu akan banyak masyarakat yang bertobat ke rumah sakit karena sudah merasa aman dari pandemi COVID-19, kami berharap masyarakat tidak panik karena meningkatnya iuran kesehatan," ucap dia.
Selain itu, ia berharap ke depannya BPJS kesehatan harus mampu memastikan pelayanan yang andal pada pengguna sehingga tidak ada lagi peserta BPJS kesehatan yang ditolak oleh pihak rumah sakit karena alasan ramainya yang berobat.
"Seperti seolah-olah rumah sakit penuh," ujar dia.
Kemudian adanya pasien yang disuruh bayar obat sendiri karena alasan tidak terdaftar, kata dia.
Tulus juga berharap tidak ada lagi antrean yang panjang saat berobat, fasilitas kesehatan terbatas, dan lain sebagainya.
"Selain itu, BPJS Kesehatan ke depannya diharapkan proaktif terjun dalam aspek preventif dan promotif. Sehingga menciptakan masyarakat hidup sehat melalui program JKN-KIS," ucap dia.
Pewarta : Laila Syafarud
Editor : Hendra Agusta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menuju Kota Gastronomi, Wako Fadly Amran : Subsektor kuliner jadi lokomotif kreatif Padang
09 February 2026 17:27 WIB
BMKG prakirakan hujan disertai petir berpotensi di kota Padang pada Senin
09 February 2026 10:40 WIB
Terpopuler - Sosial
Lihat Juga
Kemensos salurkan bansos penanganan pascabencana dan bansos reguler untuk Aceh, Sumut dan Sumbar
31 January 2026 10:59 WIB
Penyaluan bansos tahap pertama tetap melalui bank Himbara dan Pos Indonesia
23 January 2026 23:24 WIB
Sambut Ramadhan, Elnusa Petrofin Berbagi Energi Kebahagiaan dengan Anak Yatim Piatu & Dhuafa di Seluruh Indonesia
06 March 2025 15:10 WIB
Luhut tekankan perlunya pengoptimalan digitalisasi untuk penyaluran bansos
08 February 2025 14:27 WIB, 2025