Padang (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumatera Barat (Sumbar) memfokuskan pemberian KB setelah melahirkan untuk menekan angka kelahiran di daerah tersebut.


"Saat ini pemberian KB kepada ibu yang baru melahirkan masih rendah yakni 17 persen, sementara di daerah lain sudah 80 persen," kata dia di Padang, Senin.


Menurut dia dalam menyukseskan program ini pihaknya akan menggandeng pihak rumah sakit dan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Sumbar.


Ia menambahkan program ini dulunya sudah ada namun tidak berjalan sebagaimana mestinya.


"Kini kita coba hidupkan kembali agar pertumbuhan angka kelahiran dapat ditekan," katanya.


Apabila ibu yang telah melahirkan langsung diberikan KB, maka angka pertumbuhan akan terencana namun jika setelah melahirkan dibiarkan pulang tanpa menggunakan KB maka kemungkinan hamil lagi akan semakin besar, terang dia.


"Kalau sudah pulang kemungkinan KB semakin kecil. Padahal satu bulan setelah ibu itu melahirkan bisa hamil kembali," ujar dia.


Pihaknya akan berupaya agar program ini dapat berjalan dengan baik. Selain menggandeng pihak rumah sakit, dokter dan bidan, BKKBN terus melakukan edukasi kepada masyarakat.
 

"Kita tidak ingin menghalangi kehamilan namun ingin semua dapat terencana dengan baik," kata dia.


Sementara Ketua POGI Sumbar, dr Dovy Djanas menyebutkan pihaknya terus bersinergi dengan BKKBN, IDI dan bidan dalam menekan angka kematian ibu dan bayi.


"Penggunaan KB setelah persalinan memang masih rendah dan kita akan bekerja sama untuk menanggulangi hal tersebut," tambah dia.


Menurut dia program ini akan ada di setiap rumah sakit, klinik persalinan dan siap mengedukasi ibu hamil dan yang telah melahirkan agar menggunakan KB.


"Langkah ini tentu sejalan dengan program kita menekan angka kematian ibu dan anak saat persalinan," kata dia.


 

Pewarta : Mario Sofia Nasution
Editor : Hendra Agusta
Copyright © ANTARA 2024