Fokus pada gula -sawit, PTPN bakal kurangi lahan karet dan teh
Rabu, 5 Agustus 2020 13:57 WIB
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara Muhammad Abdul Ghani (tengah) dalam jumpa pers bertajuk "Gula PTPN Grup Tembus Pasar Ritel" yang digelar di Jakarta, Rabu. (Mentari Dwi Gayati)
Jakarta (ANTARA) - Holding Perkebunan Nusantara yang menjadi induk dari anak perusahaan PTPN akan berfokus pada dua komoditas utama, yakni sawit dan gula sebagai bentuk komitmen perusahaan menjaga kemandirian pangan nasional.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara Muhammad Abdul Ghani menjelaskan perseroan memiliki strategi untuk memperkuat komoditas gula dan sawit dengan mengurangi areal lahan perkebunan tanaman lainnya, yakni karet dan teh.
"Jadi akan kami kurangi (lahan) untuk karet dan teh, tapi akan kami perbanyak untuk gula dan kelapa sawit. Itu bagian dari peran PTPN sebagai BUMN mendukung kemandirian nasional," kata Abdul Ghani dalam konferensi pers bertajuk "Gula PTPN Grup Tembus Pasar Ritel" yang digelar di Jakarta, Rabu.
Ghani menjelaskan bahwa perseroan akan memperkuat komoditas gula dengan cara memperluas areal tanaman tebu dari sekitar 56.000 hektare (ha) saat ini menjadi sekitar 80.000 ha.
Perluasan tersebut salah satunya dilakukan dengan mengonversi lahan karet yang dimiliki lahan anak perusahaan serta bersinergi dengan perusahaan BUMN lain seperti Perum Perhutani.
Menurut Ghani, keputusan perseroan untuk mengurangi lahan perkebunan karet dan teh berdasarkan kebutuhan gula nasional yang semakin meningkat. Pemenuhan produksi gula dari dalam negeri melalui perluasan areal tanaman tebu dinilai mampu mengurangi ketergantungan negara terhadap impor gula.
Pada 2019, PTPN mencatat kebutuhan gula nasional mencapai sekitar 6 juta ton, terdiri dari 3 juta ton gula konsumsi rumah tangga dan 3 juta ton untuk industri makanan dan minuman. Sementara itu, produksi gula dalam negeri baru mencapai 2,2 juta ton.
Di sisi lain, kontribusi tanaman perkebunan lainnya dalam kemandirian pangan, seperti karet dan teh dapat disubstitusi dengan komoditas lainnya.
"Karet itu banyak bermanfaat untuk diekspor, tetapi kalau kaitannya dengan pemenuhan ketahanan nasional, bisa digantikan dengan tanaman lain. Ke depan, PTPN akan fokus pada dua komoditas utama, yaitu gula dan sawit," kata Ghani.
Ghani menambahkan PTPN Grup menargetkan produksi gula konsumsi tahun ini sebanyak 1 juta ton dengan tingkat rendemen sekitar 8 persen.
Produksi itu bersumber dari areal tanaman tebu milik PTPN yakni PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, dan PTPN XIV maupun milik petani tahun ini sekitar 168.000 ha dan diproyeksikan mampu menghasilkan tebu untuk digiling sebanyak 12,2 juta ton.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara Muhammad Abdul Ghani menjelaskan perseroan memiliki strategi untuk memperkuat komoditas gula dan sawit dengan mengurangi areal lahan perkebunan tanaman lainnya, yakni karet dan teh.
"Jadi akan kami kurangi (lahan) untuk karet dan teh, tapi akan kami perbanyak untuk gula dan kelapa sawit. Itu bagian dari peran PTPN sebagai BUMN mendukung kemandirian nasional," kata Abdul Ghani dalam konferensi pers bertajuk "Gula PTPN Grup Tembus Pasar Ritel" yang digelar di Jakarta, Rabu.
Ghani menjelaskan bahwa perseroan akan memperkuat komoditas gula dengan cara memperluas areal tanaman tebu dari sekitar 56.000 hektare (ha) saat ini menjadi sekitar 80.000 ha.
Perluasan tersebut salah satunya dilakukan dengan mengonversi lahan karet yang dimiliki lahan anak perusahaan serta bersinergi dengan perusahaan BUMN lain seperti Perum Perhutani.
Menurut Ghani, keputusan perseroan untuk mengurangi lahan perkebunan karet dan teh berdasarkan kebutuhan gula nasional yang semakin meningkat. Pemenuhan produksi gula dari dalam negeri melalui perluasan areal tanaman tebu dinilai mampu mengurangi ketergantungan negara terhadap impor gula.
Pada 2019, PTPN mencatat kebutuhan gula nasional mencapai sekitar 6 juta ton, terdiri dari 3 juta ton gula konsumsi rumah tangga dan 3 juta ton untuk industri makanan dan minuman. Sementara itu, produksi gula dalam negeri baru mencapai 2,2 juta ton.
Di sisi lain, kontribusi tanaman perkebunan lainnya dalam kemandirian pangan, seperti karet dan teh dapat disubstitusi dengan komoditas lainnya.
"Karet itu banyak bermanfaat untuk diekspor, tetapi kalau kaitannya dengan pemenuhan ketahanan nasional, bisa digantikan dengan tanaman lain. Ke depan, PTPN akan fokus pada dua komoditas utama, yaitu gula dan sawit," kata Ghani.
Ghani menambahkan PTPN Grup menargetkan produksi gula konsumsi tahun ini sebanyak 1 juta ton dengan tingkat rendemen sekitar 8 persen.
Produksi itu bersumber dari areal tanaman tebu milik PTPN yakni PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, dan PTPN XIV maupun milik petani tahun ini sekitar 168.000 ha dan diproyeksikan mampu menghasilkan tebu untuk digiling sebanyak 12,2 juta ton.
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jasa Raharja dan Holding IFG tandatangani komitmen Anti-Fraud bersama BPKP
14 August 2024 15:51 WIB, 2024
Holding Sub-Holding PLN beri ruang besar bagi perempuan, tujuh srikandi jabat posisi penting
24 September 2022 19:30 WIB, 2022
Holding PLN dengan 4 sub-holding, makin lincah jadi perusahaan energi berbasis teknologi menyambut masa depan
23 September 2022 13:20 WIB, 2022
Pembangkit terkonsolidasi dalam "subholding genco" 1 dan 2, PLN jadi penghasil listrik terbesar di Asia Tenggara
22 September 2022 16:19 WIB, 2022
Satu tahun Holding Ultra Mikro, tingkatkan kesejahteraan dan percepat inklusi keuangan
14 September 2022 19:18 WIB, 2022
Dekatkan pabrik dengan bahan baku, Petrokimia Gresik persiapkan bangun pabrik NPK di Yordania
14 July 2022 6:16 WIB, 2022
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB
Harga emas Antam Selasa (10/02/2026) hari ini naik Rp14.000 menjadi Rp2,954 juta/gram
10 February 2026 10:00 WIB
Selasa (10/02/2026) hari ini emas UBS Rp2,993 juta/gr dan Galeri24 Rp2,979 juta/gr
10 February 2026 9:02 WIB