Sentimen anti-AS semakin mendunia pasca-pembunuhan Jenderal Iran Soleimani
Selasa, 7 Januari 2020 8:36 WIB
Pengunjuk rasa melakukan protes pembunuhan terhadap pemimpin pasukan elit Quds Mayor Jenderal Qassem Soleimani di Teheran, Jumat (3/1/2020). Qassem Soleimani tewas karena serangan udara Amerika Serikat di bandara Baghdad, Irak. ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency)/Nazanin Tabatabaee via REUTERS/pras.
Dubai, (ANTARA) - Pembunuhan komandan senior militer Iran Qassem Soleimani telah membuat sentimen anti-Amerika Serikat semakin mendunia, ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.
"Pembunuhan tersebut juga menciptakan dendam di seluruh dunia," ujar Mohammad Javad Zarif melalui akun twitternya pada Senin (6/1).
Javad Zarif mengatakan apa yang dilakukan Amerika Serikat memicu kemarahan global dan dendam di seluruh dunia dalam skala besar.
"Dendam terhadap AS telah dimulai di Asia Barat," ujar dia.
Soleimani, perancang operasi klandestin dan militer Teheran di luar negeri sebagai kepala Pasukan Quds Pengawal Revolusi, tewas pada Jumat (3/1) dalam serangan pesawat tak berawak milik AS pada konvoinya di bandara Baghdad.
Sementara banyak warga Iran berdemonstrasi dalam beberapa hari terakhir untuk menunjukkan kesedihan atas kematian Soleimani, yang lain khawatir kematiannya akan mendorong negara itu untuk berperang dengan negara adidaya. Soleimani dianggap sebagai tokoh terkuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (4/1) mengancam akan menghantam keras 52 situs Iran jika negara itu menyerang aset atau warga negara Amerika Serikat. (*)
"Pembunuhan tersebut juga menciptakan dendam di seluruh dunia," ujar Mohammad Javad Zarif melalui akun twitternya pada Senin (6/1).
Javad Zarif mengatakan apa yang dilakukan Amerika Serikat memicu kemarahan global dan dendam di seluruh dunia dalam skala besar.
"Dendam terhadap AS telah dimulai di Asia Barat," ujar dia.
Soleimani, perancang operasi klandestin dan militer Teheran di luar negeri sebagai kepala Pasukan Quds Pengawal Revolusi, tewas pada Jumat (3/1) dalam serangan pesawat tak berawak milik AS pada konvoinya di bandara Baghdad.
Sementara banyak warga Iran berdemonstrasi dalam beberapa hari terakhir untuk menunjukkan kesedihan atas kematian Soleimani, yang lain khawatir kematiannya akan mendorong negara itu untuk berperang dengan negara adidaya. Soleimani dianggap sebagai tokoh terkuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (4/1) mengancam akan menghantam keras 52 situs Iran jika negara itu menyerang aset atau warga negara Amerika Serikat. (*)
Pewarta : Azis Kurmala
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sebanyak 103 tewas di Iran saat peringati wafatnya Jenderal Soleimani
04 January 2024 9:23 WIB, 2024
Warga Irak serukan slogan anti-AS peringati kematian jenderal pasukan Garda Revolusi Iran Soleimani
04 January 2021 5:56 WIB, 2021
Pentagon beberkan 50 tentara AS alami gegar otak akut pascaserangan Iran
29 January 2020 11:12 WIB, 2020
Hizbullah sebut sudah waktunya sekutu Iran membalas kematian Soleimani
13 January 2020 11:59 WIB, 2020
Pertimbangan keamanan, Prancis larang warga negaranya bepergian ke Iran dan Irak
08 January 2020 9:59 WIB, 2020
Trump sebut tunduk pada hukum internasional terkait target situs Iran
08 January 2020 8:49 WIB, 2020
AS mulai khawatir, peringatkan warganya waspadai serangan roket pasca-kematian Soleimani
07 January 2020 10:40 WIB, 2020