jumlah titik panas cenderung menurun, masyarakat tetap waspadai sebaran kabut asap
Kamis, 19 September 2019 19:48 WIB
Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan. (ANTARA FOTO/Ahmad Rizki Prabu/pras).
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jumlah titik panas di Sumatera dan Kalimantan saat ini fluktuatif dan cenderung menurun dibandingkan dibandingkan sepekan lalu.
Walaupun kecenderungan jumlah titik panas menurun dibanding periode awal September 2019, namun masyarakat harus terus mewaspadai sebaran asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan, kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono R Prabowo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dia menambahkan, penurunan tersebut terdeteksi berdasarkan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Himawari-8, selama tiga hari terakhir (16 hingga 18 September 2019) BMKG telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 3.302 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan jumlah titik panas pada periode waktu 13 hingga 15 September 2019 yang mencapai 3.854 titik.
Hotspot tersebut diantaranya berada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Juga terdeteksi di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Papua Nugini, dan Timor Leste.
Di wilayah Indonesia pada 14 September 2019 terdeteksi 1.080 titik. Jumlah tersebut mengalami penurunan sejak 15 September 2019 sampai dengan 17 September 2019, meskipun terdapat peningkatan kembali pada 18 September 2019.
Terdeteksi masih adanya sebaran asap yang memasuki wilayah Semenanjung Malaysia dari wilayah Sumatera. Selain itu pada waktu yang sama, terdeteksi pula adanya sebaran asap yang meluas hingga wilayah Serawak Malaysia dari Kalimantan Barat.
Kondisi ini dapat terjadi karena arah angin di wilayah Riau bertiup dari arah Tenggara-Selatan ke Utara-Timur Laut, sementara arah angin di wilayah Kalimantan Barat ke arah Utara.
Kecenderungan penurunan jumlah titik panas di Indonesia dan negara ASEAN secara tidak langsung dapat menurunkan sebaran Asap di wilayah Indonesia, Namun Masyarakat masih harus mewaspadai tingkat kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla); dikarenakan potensi hujan yang masih rendah di daerah tersebut.
Saat ini dalam mengupayakan peningkatan potensi hujan di daerah terjadinya karhutla, BMKG terus memonitor dan menganalisis potensi terbentuknya awan hujan, untuk menjadi acuan bagi upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (dengan hujan buatan) yang dilakukan oleh BPPT, TNI & BNPB.
Upaya modifikasi cuaca ini mendesak dilakukan untuk memaksimalkan potensi hujan di wilayah karhutla, yang sudah dilaksanakan di beberapa tempat di Wilayah Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
Walaupun kecenderungan jumlah titik panas menurun dibanding periode awal September 2019, namun masyarakat harus terus mewaspadai sebaran asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan, kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono R Prabowo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Dia menambahkan, penurunan tersebut terdeteksi berdasarkan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Himawari-8, selama tiga hari terakhir (16 hingga 18 September 2019) BMKG telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 3.302 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan jumlah titik panas pada periode waktu 13 hingga 15 September 2019 yang mencapai 3.854 titik.
Hotspot tersebut diantaranya berada di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Juga terdeteksi di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Papua Nugini, dan Timor Leste.
Di wilayah Indonesia pada 14 September 2019 terdeteksi 1.080 titik. Jumlah tersebut mengalami penurunan sejak 15 September 2019 sampai dengan 17 September 2019, meskipun terdapat peningkatan kembali pada 18 September 2019.
Terdeteksi masih adanya sebaran asap yang memasuki wilayah Semenanjung Malaysia dari wilayah Sumatera. Selain itu pada waktu yang sama, terdeteksi pula adanya sebaran asap yang meluas hingga wilayah Serawak Malaysia dari Kalimantan Barat.
Kondisi ini dapat terjadi karena arah angin di wilayah Riau bertiup dari arah Tenggara-Selatan ke Utara-Timur Laut, sementara arah angin di wilayah Kalimantan Barat ke arah Utara.
Kecenderungan penurunan jumlah titik panas di Indonesia dan negara ASEAN secara tidak langsung dapat menurunkan sebaran Asap di wilayah Indonesia, Namun Masyarakat masih harus mewaspadai tingkat kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla); dikarenakan potensi hujan yang masih rendah di daerah tersebut.
Saat ini dalam mengupayakan peningkatan potensi hujan di daerah terjadinya karhutla, BMKG terus memonitor dan menganalisis potensi terbentuknya awan hujan, untuk menjadi acuan bagi upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (dengan hujan buatan) yang dilakukan oleh BPPT, TNI & BNPB.
Upaya modifikasi cuaca ini mendesak dilakukan untuk memaksimalkan potensi hujan di wilayah karhutla, yang sudah dilaksanakan di beberapa tempat di Wilayah Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
Pewarta : Desi Purnamawati
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jadwal pertandingan BRI Super Lague Sabtu (21/2/2026), papan bawah kian panas
21 February 2026 13:28 WIB
Prediksi pertandingan BRI Super League pekan ke-13, laga panas Malut United vs Persita
23 November 2025 8:12 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Sumbar butuh skuadron SAR sebagai mitigasi bencana, legislator Sumbar paparkan alasannya
25 February 2026 20:56 WIB
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB