Pedagang daring mengaku merugi akibat pembatasan medsos
Kamis, 23 Mei 2019 9:47 WIB
Salah seorang pedagang daring lewat medsos tidak bisa memposting dagangannya ke akun medsosnya, Kamis (ANTARA SUMBAR/istimewa)
Padang Aro, (ANTARA) - Pedagang dalam jaringan (Daring) di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, mengaku merugi akibat pembatasan akses media sosial facebook, twitter dan instagram oleh pemerintah.
"Sudah dua hari saya tidak bisa memposting contoh dagangan saya di Medsos sehingga pelanggan saya tidak tahu dan berimbas pada penjualan", kata salah seorang pedagang Daring Yosa Andika, di Padang Aro, Kamis.
Dia mengatakan, dalam kondisi normal apalagi menjelang lebaran ia bisa menghasilkan Rp2 juta sampai Rp5 juta setiap minggu.
Akan tetapi, katanya, sejak terjadi pembatasan ini ia tidak bisa memposting dagangannya sehingga belum ada yang terjual.
"Sejak ada pembatasan medsos dagangan saya belum laku dan ini sangat merugikan terutama menjelang lebaran yang biasanya omsetnya naik," ujarnya.
Dia mengatakan, ia biasanya mempromosikan dagangannya melalui akun facebook, instagram dan twitter sekarang semuanya susah untuk diakses.
Setelah dagangan diposting melalui medsos, katanya, biasanya pembeli menanyakan harga, ukuran lewat kolom komentar atau dilanjutkan ke Whatshapp.
"Tiga akun medsos itu paling banyak dilihat warganet sebelum belanja tetapi sekarang malah diblokir," ujarnya.
Ia setiap hari berjualan pakaian di medsos dan berharap semua medsos segera bisa diakses dengan lancar sehingga pedagang daring tidak rugi.
Sebelumnya Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha Ketika menjawab pertanyaan mengapa pemerintah melakukan pembatasan akses pada ketiga platform tersebut, ia mengatakan bahwa alasan utamanya karena faktor banyaknya berita palsu (false news) yang beredar di tiga platform tersebut.
"WhatsApp, FB, dan IG pemakaiannya sangat banyak di Tanah Air sehingga dianggap bisa menjadi media provokasi," kata Pratama yang pernah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengamanan Sinyal Lemsaneg (kini BSSN).
Ia mengatakan bahwa FB, IG, dan Twitter sampai saat ini belum mampu mendeteksi dan meredam otomatis penyebaran hoaks dan berita palsu. Facebook masih tergantung pada verifikasi manual oleh media partner Factcheck, komunitas masyarakat antihoaks.
Dalam situasi normal hari-hari biasa, menurut Pratama, false news dan hoaks masih bisa dipilih-pilih mana saja oleh FB. Namun, dalam kondisi chaos seperti saat ini, pemerintah berkejaran dengan waktu agar konten provokasi tidak menjadi asupan utama warganet di Tanah Air.
"Sudah dua hari saya tidak bisa memposting contoh dagangan saya di Medsos sehingga pelanggan saya tidak tahu dan berimbas pada penjualan", kata salah seorang pedagang Daring Yosa Andika, di Padang Aro, Kamis.
Dia mengatakan, dalam kondisi normal apalagi menjelang lebaran ia bisa menghasilkan Rp2 juta sampai Rp5 juta setiap minggu.
Akan tetapi, katanya, sejak terjadi pembatasan ini ia tidak bisa memposting dagangannya sehingga belum ada yang terjual.
"Sejak ada pembatasan medsos dagangan saya belum laku dan ini sangat merugikan terutama menjelang lebaran yang biasanya omsetnya naik," ujarnya.
Dia mengatakan, ia biasanya mempromosikan dagangannya melalui akun facebook, instagram dan twitter sekarang semuanya susah untuk diakses.
Setelah dagangan diposting melalui medsos, katanya, biasanya pembeli menanyakan harga, ukuran lewat kolom komentar atau dilanjutkan ke Whatshapp.
"Tiga akun medsos itu paling banyak dilihat warganet sebelum belanja tetapi sekarang malah diblokir," ujarnya.
Ia setiap hari berjualan pakaian di medsos dan berharap semua medsos segera bisa diakses dengan lancar sehingga pedagang daring tidak rugi.
Sebelumnya Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha Ketika menjawab pertanyaan mengapa pemerintah melakukan pembatasan akses pada ketiga platform tersebut, ia mengatakan bahwa alasan utamanya karena faktor banyaknya berita palsu (false news) yang beredar di tiga platform tersebut.
"WhatsApp, FB, dan IG pemakaiannya sangat banyak di Tanah Air sehingga dianggap bisa menjadi media provokasi," kata Pratama yang pernah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengamanan Sinyal Lemsaneg (kini BSSN).
Ia mengatakan bahwa FB, IG, dan Twitter sampai saat ini belum mampu mendeteksi dan meredam otomatis penyebaran hoaks dan berita palsu. Facebook masih tergantung pada verifikasi manual oleh media partner Factcheck, komunitas masyarakat antihoaks.
Dalam situasi normal hari-hari biasa, menurut Pratama, false news dan hoaks masih bisa dipilih-pilih mana saja oleh FB. Namun, dalam kondisi chaos seperti saat ini, pemerintah berkejaran dengan waktu agar konten provokasi tidak menjadi asupan utama warganet di Tanah Air.
Pewarta : Erik Ifansya Akbar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polri bangun dua jembatan bailey di Agam permudah akses warga pascabencana
07 February 2026 13:40 WIB
Pasca bencana Pemerintah terus upayakan pulihkan akses masyarakat di Padang Pariaman
27 January 2026 14:48 WIB
Pemerintah terus upayakan pulihkan akses masyarakat di Padang Pariaman pasca bencana
25 January 2026 16:44 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas batangan Antam turun Rp14.000 jadi Rp2,94 juta per gram, Senin (16/02/2026)
16 February 2026 9:21 WIB
Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Senin (16/02/2025) hari ini tak bergerak
16 February 2026 8:40 WIB
Harga emas Antam Sabtu (14/02/2026) hari ini naik Rp50 ribu jadi Rp2,954 juta per gram
14 February 2026 9:44 WIB
Sabtu (14/02/2026) hari ini, emas UBS Rp2,961 juta per gr, Galeri24 Rp2,938 juta per gr
14 February 2026 6:25 WIB
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB