Riau dikepung puluhan titik panas
Minggu, 17 Februari 2019 11:29 WIB
(ANTARA FOTO/Rony Muharrman/wsj/18.)
Pekanbaru, (Antaranews Sumbar) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan 30 titik panas yang mengindikasikan kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) bertahan dan menyebar di sejumlah kabupaten di Provinsi Riau.
Berdasarkan pencitraan Satelit Terra dan Aqua, Minggu pukul 06.00 WIB, sedikitnya terdeteksi 30 titik panas dengan tingkat kepercayaan diatas 50 persen sebagai indikasi Karhutla menyebar di lima kabupaten di Riau.
"Titik panas terbanyak masih terdeteksi di Kabupaten Bengkalis dengan jumlah 22 titik," kata Analis BMKG Stasiun Pekanbaru, Yasir di Pekanbaru.
Secara umum, BMKG menyatakan titik panas di Bengkalis masih terpusat di Pulau Rupat. Namun, berdasarkan pencitraan satelit, titik-titik panas baru bermunculan di wilayah lainnya, seperti Kecamatan Bantan dan Kecamatan Bengkalis, Pulau Bengkalis.
Bahkan, berdasarkan data BMKG dua titik panas yang tersebut dinyatakan sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan mencapai 100 persen. Selain Bengkalis, titik-titik panas lainnya juga menyebar di Kota Dumai tiga titik, Pelalawan dua titik, Rokan Hilir dua titik serta Meranti satu titik.
Sementara itu, dari 30 titik panas terebut, 17 diantaranya dipastikan sebagai titik api, atau indikasi kuat adanya Karlahut dengan tingkat kepercayaan diatas 70 persen hingga 100 persen.
"Titik api menyebar di Bengkalis 13 titik, Dumai tiga titik serta Pelalawan satu titik," tuturnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat luas Karlahut sejak awal hingga medio Februari 2019 ini mencapai 497,71 hektare. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dalam sepekan terakhir, setelah pada awal pekan ini luas lahan yang terbakar hanya 267 hektare.
Kepala BPBD Riau Edwar Sanger mengatakan cuaca kering yang melanda pesisir Riau seperti Bengkalis, Dumai, Meranti dan Rokan Hilir menyebabkan kebakaran meluas dengan masif.
"Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis dengan total 322 hektare," kata Edwar.
Sepanjang pekan ini, Bengkalis merupakan wilayah yang mengalami kebakaran hebat. Sekitar 200 hektare lahan gambut di Pulau Rupat, Bengkalis terbakar dan hingga kini belum dapat dikendalikan.
Padahal, berdasarkan data Antara, awal pekan ini total kebakaran lahan di Bengkalis hanya seluas 131 hektare, dan hingga Jumat ini telah mencapai 322 hektare.
Selain di Bengkalis, kebakaran juga melanda Kabupaten Rokan Hilir dengan luas mencapai 112 hektare. Di Kota Dumai, kebakaran juga masih berlangsung hingga awal pekan ini tepatnya di Kecamatan Sungai Sembilan dan Medang Kampai dengan luas mencapai 31,5 hektare.
Selanjutnya kebakaran lahan juga terpantau di wilayah peisir Riau lainnya, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan luas 2,2 hektare.
"Untuk di Bengkalis dan Dumai upaya pemadaman masih terus berlangsung hingga hari ini," ujar Edwar.
Selain wilayah pesisir Riau, kebakaran juga terjadi di wilayah Riau daratan. Di Kabupaten Kampar, tercatat luas kebakaran mencapai 14 hektare.
"Dan di Pekanbaru seluas 16,01 hektare terbakar," ujarnya.
Kebakaran lahan yang melanda Riau, terutama wilayah pesisir mulai menyebabkan kabut asap. Wilayah Dumai dilaporkan mengalami kabut asap cukup parah sepanjang pekan ini. Bahkan, berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara di Dumai sempat menyentuh level berbahaya. (*)
Berdasarkan pencitraan Satelit Terra dan Aqua, Minggu pukul 06.00 WIB, sedikitnya terdeteksi 30 titik panas dengan tingkat kepercayaan diatas 50 persen sebagai indikasi Karhutla menyebar di lima kabupaten di Riau.
"Titik panas terbanyak masih terdeteksi di Kabupaten Bengkalis dengan jumlah 22 titik," kata Analis BMKG Stasiun Pekanbaru, Yasir di Pekanbaru.
Secara umum, BMKG menyatakan titik panas di Bengkalis masih terpusat di Pulau Rupat. Namun, berdasarkan pencitraan satelit, titik-titik panas baru bermunculan di wilayah lainnya, seperti Kecamatan Bantan dan Kecamatan Bengkalis, Pulau Bengkalis.
Bahkan, berdasarkan data BMKG dua titik panas yang tersebut dinyatakan sebagai titik api dengan tingkat kepercayaan mencapai 100 persen. Selain Bengkalis, titik-titik panas lainnya juga menyebar di Kota Dumai tiga titik, Pelalawan dua titik, Rokan Hilir dua titik serta Meranti satu titik.
Sementara itu, dari 30 titik panas terebut, 17 diantaranya dipastikan sebagai titik api, atau indikasi kuat adanya Karlahut dengan tingkat kepercayaan diatas 70 persen hingga 100 persen.
"Titik api menyebar di Bengkalis 13 titik, Dumai tiga titik serta Pelalawan satu titik," tuturnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat luas Karlahut sejak awal hingga medio Februari 2019 ini mencapai 497,71 hektare. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dalam sepekan terakhir, setelah pada awal pekan ini luas lahan yang terbakar hanya 267 hektare.
Kepala BPBD Riau Edwar Sanger mengatakan cuaca kering yang melanda pesisir Riau seperti Bengkalis, Dumai, Meranti dan Rokan Hilir menyebabkan kebakaran meluas dengan masif.
"Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis dengan total 322 hektare," kata Edwar.
Sepanjang pekan ini, Bengkalis merupakan wilayah yang mengalami kebakaran hebat. Sekitar 200 hektare lahan gambut di Pulau Rupat, Bengkalis terbakar dan hingga kini belum dapat dikendalikan.
Padahal, berdasarkan data Antara, awal pekan ini total kebakaran lahan di Bengkalis hanya seluas 131 hektare, dan hingga Jumat ini telah mencapai 322 hektare.
Selain di Bengkalis, kebakaran juga melanda Kabupaten Rokan Hilir dengan luas mencapai 112 hektare. Di Kota Dumai, kebakaran juga masih berlangsung hingga awal pekan ini tepatnya di Kecamatan Sungai Sembilan dan Medang Kampai dengan luas mencapai 31,5 hektare.
Selanjutnya kebakaran lahan juga terpantau di wilayah peisir Riau lainnya, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan luas 2,2 hektare.
"Untuk di Bengkalis dan Dumai upaya pemadaman masih terus berlangsung hingga hari ini," ujar Edwar.
Selain wilayah pesisir Riau, kebakaran juga terjadi di wilayah Riau daratan. Di Kabupaten Kampar, tercatat luas kebakaran mencapai 14 hektare.
"Dan di Pekanbaru seluas 16,01 hektare terbakar," ujarnya.
Kebakaran lahan yang melanda Riau, terutama wilayah pesisir mulai menyebabkan kabut asap. Wilayah Dumai dilaporkan mengalami kabut asap cukup parah sepanjang pekan ini. Bahkan, berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara di Dumai sempat menyentuh level berbahaya. (*)
Pewarta : Anggi Romadhoni
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prediksi pertandingan BRI Super League pekan ke-13, laga panas Malut United vs Persita
23 November 2025 8:12 WIB
Tim Unand beri edukasi bahaya paparan panas bagi petani gambir di Pesisir Selatan
19 November 2025 21:07 WIB
Dinamika atmosfer picu suhu panas di Sumbar, warga diimbau banyak minum air putih
02 November 2025 10:15 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB
TNI-BNPB kebut pengerjaan huntara bagi warga terdampak tanah bergerak Sumbar
23 January 2026 22:26 WIB
Presiden Prabowo tegaskan bencana Sumatera tak nasional, tapi ditangani serius
01 January 2026 14:47 WIB
Dana untuk bangun kembali daerah terdampak bencana dialokasikan, ini penjelasan Purbaya
30 December 2025 16:34 WIB