Mendag pimpin misi perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat
Senin, 14 Januari 2019 11:23 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Antara)
Washington DC, (Antaranews Sumbar) - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memimpin delegasi Indonesia untuk misi membahas sejumlah topik perdagangan ke Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 14-19 Januari 2019.
"Kunjungan kerja ke AS ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan untuk mencapai ekspor nonmigas yang ditargetkan naik 7,5 persen dibandingkan tahun lalu, atau sebesar 175,9 miliar dolar AS," kata Mendag dalam keterangan tertulis yang diterima di Washington DC, Minggu waktu setempat atau Senin pagi WIB.
Menurut Enggartiasto Lukita, kunjungan kerja misi perdagangan itu adalah upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor yang harus dilakukan sedini dan semaksimal mungkin di tengah kondisi pelambatan pertumbuhan ekonomi global.
Ia mengingatkan bahwa pada tahun ini, ekspor nonmigas ditargetkan naik menjadi 175,9 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu.
Pada periode Januari-November 2018 neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus sebesar 4,64 miliar dolar AS.
Dalam periode tersebut, ekspor secara keseluruhan tumbuh positif sebesar 7,7 persen dengan nilai ekspor migas sebesar 15,65 miliar dolar dan ekspor nonmigas 150,14 miliar dolar.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong agar produk hasil industri furnitur dapat diekspor ke Amerika Serikat, diikuti dengan peningkatan produksi agar lebih kompetitif.
"Pemerintah mendorong agar industri berorientasi ekspor seperti furnitur ini, produk sepenuhnya diekspor ke Amerika. Salah satu cara untuk meningkatkan ekspor adalah dengan kapasitas," kata Menteri Airlangga usai meresmikan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK) Jawa Tengah, Kamis (10/1).
Airlangga memaparkan pemerintah menargetkan peningkatan ekspor furnitur nasional mencapai lima miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda menilai perjanjian maupun misi perdagangan yang dilakukan pemerintah telah membantu pelaksanaan kinerja ekspor maupun impor nasional pada 2018.
Candra dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/1), menyatakan upaya tersebut mampu meningkatkan nilai ekspor nonmigas serta menahan pelebaran defisit neraca perdagangan yang secara kumulatif Januari-November 2018 tercatat sebesar 7,52 miliar dolar AS.
"Perjanjian-perjanjian dagang itu meminimalkan ketidakpastian pasar. Walaupun memang untungnya tidak banyak, tetapi lebih terjamin pembelinya," katanya. (*)
"Kunjungan kerja ke AS ini merupakan salah satu strategi yang dilakukan untuk mencapai ekspor nonmigas yang ditargetkan naik 7,5 persen dibandingkan tahun lalu, atau sebesar 175,9 miliar dolar AS," kata Mendag dalam keterangan tertulis yang diterima di Washington DC, Minggu waktu setempat atau Senin pagi WIB.
Menurut Enggartiasto Lukita, kunjungan kerja misi perdagangan itu adalah upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor yang harus dilakukan sedini dan semaksimal mungkin di tengah kondisi pelambatan pertumbuhan ekonomi global.
Ia mengingatkan bahwa pada tahun ini, ekspor nonmigas ditargetkan naik menjadi 175,9 miliar dolar AS dibandingkan tahun lalu.
Pada periode Januari-November 2018 neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus sebesar 4,64 miliar dolar AS.
Dalam periode tersebut, ekspor secara keseluruhan tumbuh positif sebesar 7,7 persen dengan nilai ekspor migas sebesar 15,65 miliar dolar dan ekspor nonmigas 150,14 miliar dolar.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong agar produk hasil industri furnitur dapat diekspor ke Amerika Serikat, diikuti dengan peningkatan produksi agar lebih kompetitif.
"Pemerintah mendorong agar industri berorientasi ekspor seperti furnitur ini, produk sepenuhnya diekspor ke Amerika. Salah satu cara untuk meningkatkan ekspor adalah dengan kapasitas," kata Menteri Airlangga usai meresmikan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK) Jawa Tengah, Kamis (10/1).
Airlangga memaparkan pemerintah menargetkan peningkatan ekspor furnitur nasional mencapai lima miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda menilai perjanjian maupun misi perdagangan yang dilakukan pemerintah telah membantu pelaksanaan kinerja ekspor maupun impor nasional pada 2018.
Candra dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis (10/1), menyatakan upaya tersebut mampu meningkatkan nilai ekspor nonmigas serta menahan pelebaran defisit neraca perdagangan yang secara kumulatif Januari-November 2018 tercatat sebesar 7,52 miliar dolar AS.
"Perjanjian-perjanjian dagang itu meminimalkan ketidakpastian pasar. Walaupun memang untungnya tidak banyak, tetapi lebih terjamin pembelinya," katanya. (*)
Pewarta : Muhammad Razi Rahman
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pertandingan Liga 1 akan digelar malam hari untuk menghibur penonton televisi
14 July 2022 6:25 WIB, 2022
Mendag sebut revitalisasi pasar rakyat sejak 2015 tingkatkan omzet 20 persen
12 March 2019 12:03 WIB, 2019
China buka impor seluas-luasnya, Mendag: Ini peluang bagi Indonesia
06 November 2018 11:23 WIB, 2018
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Harga emas Antam Sabtu (14/02/2026) hari ini naik Rp50 ribu jadi Rp2,954 juta per gram
14 February 2026 9:44 WIB
Sabtu (14/02/2026) hari ini, emas UBS Rp2,961 juta per gr, Galeri24 Rp2,938 juta per gr
14 February 2026 6:25 WIB
Jumat (13/02/2026) pagi emas UBS Rp3,008 juta/gr dan Galeri24 Rp2,992 juta/gr
13 February 2026 8:29 WIB
Emas batangan Antam, Kamis (12/02/2026) tak bergerak di angka Rp2,947 juta/gr
12 February 2026 9:04 WIB
Harga Emas Antam turun Rp7.000 ke angka Rp2,947 juta per gram, Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:32 WIB
Simak harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian yang naik Rabu (11/02/2026) hari ini
11 February 2026 9:09 WIB