Padang, (Antaranews Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat  mencatat ekspor provinsi itu pada Agustus  2018 mencapai 146,76 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau turun 4,36  persen dibandingkan Juli  2018 yang mencapai 153,46 juta dolar AS.
    " Ekspor Agustus 2018 juga mengalami penurunan 20,34 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017,"  kata  Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Selasa.
     Ia menyampaikan  negara  tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Agustus  2018 adalah ke  India   27,74 juta dolar AS, Amerika Serikat 40,66 juta dolar AS dan Kenya 15,22 juta dolas AS.
    Ekspor ke India  memberikan peranan sebesar 22,74 persen  dan Amerika Serikat 25,18 persen  terhadap total ekspor Sumbar sepanjang Januari hingga Agustus 2018.
    Sejalan dengan itu  ekspor produk industri  pengolahan pada Agustus 2018  juga mengalami penurunan sebesar 2,36   persen dibanding Juli.
     Sebaliknya nilai impor Sumatera Barat pada  Agustus 2018 mencapai 60,73 juta dolar AS  atau  naik  28,22  persen dibandingkan Juli yang mencapai  47,36 juta dolar AS.
     Golongan barang impor terbesar  Agustus 2018  adalah  bahan bakar mineral sebesar 40,08 juta dolar AS, pupuk 8,95 juta dolar AS, dan ampas, sisa industri makanan 4,96 juta dolar AS.
    Sebelumnya Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumatera Barat mengusulkan pembentukan tim terpadu peningkatan ekspor terdiri atas berbagai pemangku kepentingan untuk membuat kajian khusus agar ekspor daerah itu terus berkembang.
     "Saya termasuk yakin dan percaya salah satu upaya meningkatkan perekonomian Sumbar adalah dengan meningkatkan ekspor untuk itu perlu dibuat tim khusus untuk menanganinya," kata Ketua Kadin Sumbar Ramal Saleh.
     Menurutnya tim tersebut terdiri atas pemerintah, dunia usaha untuk membuat konsep  besar ekspor Sumbar  empat hingga lima tahun ke depan.
     Jadi kalau sekarang ekspor Sumbar masih 1,9 miliar dolar Amerika Serikat lima tahun lagi naik menjadi 5 miliar dolar AS, kata dia.
     Menurutnya untuk bisa mewujudkan target tersebut tim membangun sinergi dan komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan ekspor.
     Saat ini komoditas utama ekspor Sumbar baru dua yaitu karet dan minyak sawit, padahal ada komoditas lain yang juga potensial seperti gambir, pinang, kayu manis, katanya.
     Selain itu ia berharap ke depan ekspor Sumbar tidak hanya dalam bentuk bahan mentah namun diolah menjadi produk sehingga nilainya jauh lebih tinggi. (*)