Jaringan pipa gas Pertamina 9.600 kilometer, terpanjang se-Asean
Selasa, 28 Agustus 2018 15:58 WIB
(ANTARA FOTO)
Jakarta, (Antaranews Sumbar) - PT Pertamina memiliki bisnis gas terintegrasi dengan masuknya PGN dan Pertagas dalam satu perusahaan bersama Pertamina Group setelah Holding Migas resmi terbentuk.
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra dalam sambutannya pada Gathering Indonesian Gas Society di Jakarta, Selasa, mengatakan dengan berdirinya holding migas, Pertamina pun memiliki infrastruktur gas yang terintegrasi dari PT Pertagas dan PGN.
"Dengan holding ini, jaringan pipa kami akan mencapai lebih dari 9.600 kilometer, sebagai pipa gas terpanjang di Asia Tenggara," kata Basuki yang akrab disapa Tiko ini.
Ia menjelaskan melalui integrasi dalam Pertamina Group, perusahaan akan melakukan beberapa langkah strategis yakni meningkatkan pasokan gas domestik, meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan distribusi gas, mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang ada.
Kemudian, juga membangun di area baru serta meningkatkan kapasitas untuk berinvestasi.
Tiko memaparkan beberapa hal yang akan dicapai yakni potensi pertumbuhan bisnis gas sebesar 7-9 persen selama lima tahun ke depan. Volume transmisi gabungan sebesar 2,627 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) di seluruh jaringan PGN dan Pertagas.
Dengan potensi yang dimiliki, Pertamina terus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan di bisnis gas melalui berbagai forum.
Salah satunya melalui forum tahunan Indonesian Gas Society (IGS). Forum ini bertujuan mengevaluasi strategi, masalah, tantangan, dan peluang bisnis gas di Indonesia.
Pertamina menyadari tantangan utama bisnis gas saat ini adalah permintaan gas di dalam negeri yang terus meningkat. Pertamina mengupayakan mata rantai gas yang efisien karena kondisi pasokan yang terkonsentrasi di wilayah timur sementara kebutuhan lebih terpusat di wilayah barat.
Pada pertemuan regulator dan para pelaku bisnis gas 2018 yang mengangkat "Indonesia Oil & Gas Holding Company: Challenges & Opportunities" ini, Tiko juga menyampaikan tantangan lain yang dihadapi dalam pemenuhan energi gas di Indonesia yakni investasi.
Untuk memenuhi permintaan dan mendorong peningkatan penggunaan gas, infrastruktur gas Indonesia membutuhkan pengembangan substansial. Dengan karakter negara kepulauan, biaya pembangunan infrastruktur gas sangat signifikan. (*)
Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra dalam sambutannya pada Gathering Indonesian Gas Society di Jakarta, Selasa, mengatakan dengan berdirinya holding migas, Pertamina pun memiliki infrastruktur gas yang terintegrasi dari PT Pertagas dan PGN.
"Dengan holding ini, jaringan pipa kami akan mencapai lebih dari 9.600 kilometer, sebagai pipa gas terpanjang di Asia Tenggara," kata Basuki yang akrab disapa Tiko ini.
Ia menjelaskan melalui integrasi dalam Pertamina Group, perusahaan akan melakukan beberapa langkah strategis yakni meningkatkan pasokan gas domestik, meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan distribusi gas, mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang ada.
Kemudian, juga membangun di area baru serta meningkatkan kapasitas untuk berinvestasi.
Tiko memaparkan beberapa hal yang akan dicapai yakni potensi pertumbuhan bisnis gas sebesar 7-9 persen selama lima tahun ke depan. Volume transmisi gabungan sebesar 2,627 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) di seluruh jaringan PGN dan Pertagas.
Dengan potensi yang dimiliki, Pertamina terus melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan di bisnis gas melalui berbagai forum.
Salah satunya melalui forum tahunan Indonesian Gas Society (IGS). Forum ini bertujuan mengevaluasi strategi, masalah, tantangan, dan peluang bisnis gas di Indonesia.
Pertamina menyadari tantangan utama bisnis gas saat ini adalah permintaan gas di dalam negeri yang terus meningkat. Pertamina mengupayakan mata rantai gas yang efisien karena kondisi pasokan yang terkonsentrasi di wilayah timur sementara kebutuhan lebih terpusat di wilayah barat.
Pada pertemuan regulator dan para pelaku bisnis gas 2018 yang mengangkat "Indonesia Oil & Gas Holding Company: Challenges & Opportunities" ini, Tiko juga menyampaikan tantangan lain yang dihadapi dalam pemenuhan energi gas di Indonesia yakni investasi.
Untuk memenuhi permintaan dan mendorong peningkatan penggunaan gas, infrastruktur gas Indonesia membutuhkan pengembangan substansial. Dengan karakter negara kepulauan, biaya pembangunan infrastruktur gas sangat signifikan. (*)
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
SKK Migas berikan dukungan kproses field trial injeksi chemical di Meruap Sarolangun Jambi
02 March 2026 11:55 WIB
SKK Migas perkuat sinergi dengan media untuk edukasi masyarakat tentang industri hulu migas
04 November 2025 22:22 WIB
Tanggal 28 September hari apa? ternyata Hari Jadi Pertambangan dan Energi
28 September 2025 21:18 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Sabtu (04/04/2026) pagi ini harga emas Antam bertahan di angka Rp2,857 juta/gr
04 April 2026 9:06 WIB
Simak daftar harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Sabtu (04/04/026) pagi
04 April 2026 8:12 WIB
Jumat (03/04/2026) pagi harga emas Antam anjlok Rp65.000 jadi Rp2,857 juta/gram
03 April 2026 10:49 WIB
Harga emas UBS-Galeri24 turun, Antam naik di Pegadaian Jumat (03/04/2026) pagi
03 April 2026 7:54 WIB
Harga emas UBS-Antam-Galeri24 di Pegadaian Kamis (02/04/2026) pagi kompak melonjak
02 April 2026 9:08 WIB
Harga emas Antam Kamis (02/04/2026) pagi naik Rp20.000 jadi Rp2,922 juta per gram
02 April 2026 9:06 WIB