Koeln, September 2012

Di sela-sela kesibukannya dalam shooting film tentang kisah kasihnya dengan ibu Ainun, bekas Presiden RI ke-3 ini telah menyempatkan dirinya mengunjungi sahabat sejatinya Muhammad Syahbuddin Shahab yang sedang diopname di klinik ortopedi privat „Ortoporc Klinik Köln“  setelah melaksanakan operasi lututnya yang sebelumnya selalu sakit kalau bergerak.  

Syahbuddin adalah teman tempat berkeluh kesahnya Habibie semenjak beliau datang di Jerman untuk melanjutkan kuliahnya di sini sampai sekarang ini.    

Persahabatan antara dua insan yang berjasa buat negara Indonesia ini diawali di Bonn, Jerman, ketika Habibie dan Syahbuddin melanjutkan pendidikannya di Jerman.      

Persahabatn ini semakin erat ketika Habibie sakit dan dirawat di rumah sakit Bad Gutersberg, Bonn, dimana Syahbuddin membawakan Habibie nasi dan semur ayam agar nafsu makannya timbul kembali. 

 Semenjak itu, kedua insan ini selalu bersama dan tetap mengadakan komunikasi serta saling kunjung mengunjungi satu sama lain. Kalau Habibie lagi di Jerman tidak akan pernah beliau tidak memiliki waktu untuk mengunjungi sahabatnya ini,  walaupun kesibukannya sangat padat sekali. 

Semasa istri beliau ibu Ainun masih hidup, kunjungan ini lebih sering dilakukannya dan kedatangan beliau ke sana selalu disambut oleh Syahbuddin dan istrinya Marie-Therese yang telah biasa beradaptasi menerima kunjungan tamu-tamu pejabat Indonesia di kediamannya, di Koeln.

Begitu juga sebaliknya, kalau Syahbuddin lagi pulang kampung ke tanah air, beliau juga pasti akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi keluarga Habibie ini. 

Persaudaraan antara Habibie dan Syahbuddin tidak hanya sebatas antara mereka berdua, tapi juga antara saudara-saudara kedua belah pihak, bahkan anak-anak serta cucu-cucunya Habibie juga telah mengenal Syahbuddin sebagai bagian dari mereka dan kalau lagi di Jerman pasti akan berkunjung ke Koeln.

<b>Siapa Syahbuddin?</b>

Siapa Burhanuddin Jusuf Habibie, pasti setiap kita khususnya orang Indonesia kenal, beliau adalah presiden reformasi Indonesia, beliau adalah Presiden Indonesia ke-3 setelah kediktatoran Soeharto sebagai Presiden RI ke-2 jatuh di tahun 1998. Banyak lagi cerita mengenai Habibie yang kita semua telah ketahui.

<b>Tapi siapa Syahbuddin?</b>

Sebagian besar di antara kita belum mengetahuinya. Kenapa Syahbuddin terdampar di Jerman dan akhirnya bisa bertemu Habibie?

Sedikit kisah tentang Syahbuddin Muhammad Shahab yang lahir di Padang, Sumatera Barat sekitar 80 tahun yang lalu yang sekarang bermukim bersama istrinya di Koln, Jerman. 

Syahbuddin yang masih fasih berbahasa Minang ini semenjak lahir sampai Jepang masuk bersekolah di Perguruan Adabiyah Padang. Ketika revolusi masuk, sekolahnya jadi terputus karena harus mengungsi ke Padangpanjang dan Solok. 

Setelah kemerdekaan Syahbuddin berangkat ke Singapura untuk mencari senjata dan bahan kertas untuk uang Oerip untuk diselundupkan ke Indonesia sebagai bekal melawan penjajah di masa itu.

Ketika Belanda melancarkan serangan agressi I, Syahbuddin yang tadinya berniat pulang terpaksa diundurkan dan mencoba bertahan di Singapura sambil bekerja di sebuah rumah makan sampai tahun 1947. 

Setelah itu, Syahbuddin mendapat bantuan dan akhirnya bisa kembali pulang ke Tanah Air tapi tidak ke Padang melainkan ke tempat kakaknya di Malang, Jawa Timur. Di sana akhirnya dia menjadi gerilyawan pembawa obat-obatan untuk tentara ketika terjadinya Agresi II.

Setelah revolusi selesai tahun 1949, Syahbuddin melanjutkan pendidikannya di SMP dan SMA Khatolik Surabaya. Semasa sekolah,  bersama Fuad Hassan ia sempat memimpin rombongan pandu Jawa Timur ke Jambore Nasional I di Jakarta.

Syahbuddin kemudian melanjutkan sekolahnya ke jurusan Ekonomi Perusahaan, Universitas Albertus Magnus, Koln di Jerman. Di sinilah Syhabuddin bertemu Habibie, Wardiman dan Purnomosidi yang melanjutkan studynya juga disana.

Semasa kuliah, dia selalu aktif dan bahkan Syahbuddin adalah salah satu pelopor pendiri PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jerman yang sampai sekarang telah menyebar di mana saja dan sudah memiliki ribuan anggotanya. 

Selain itu, Syahbuddin juga aktif dan sering berkorespondensi dengan Bung Hatta yang sekampung dengannya untuk mengetahui perkembangan Tanah Air di bawah komandonya sebagai Wakil Presiden RI pertama. Karena dia tidak suka Komunis, di zaman Nasakom dia di cap oleh teman-temannya sebagai anti revolusioner.

Syahbuddin yang telah lebih dari 50 tahun berdomisili di Jerman dan beristrikan orang Jerman ini sampai saat ini masih tetap mempertahankan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia. Semasa mudanya dia banyak merorientasikan bisnisnya ke Indonesia, antara lain memasok suku cadang PT. PAL, IPTN dan Pindad serta Karakataw Steel.

Perhatiannya memang cukup besar terhadap tanah airnya serta kampung halamannya Minangkabau. Sampai sekarang Syahbuddin masih menjabat sebagai ketua Yayasan Gebu Minang Eropa yang telah dibentuk dan diresmikan oleh Harun Zain semenjak tahun 1992 di Jerman. Langkah yang telah dilakukannya untuk ini adalah mengupayakan dan mempromosikan produksi Sumatera Barat di Jerman dan Eropa.

Syahbuddin mengingatkan oramg Jerman untuk selalu menjaga hubungan baik dengan orang Indonesia yang berada di sini, karena mereka nanti akan menjadi pejabat setelah pulang ke Indonesia, contohnya saja  Habibie.

Selain mengingatkan Syahbuddin sendiri juga melaksanakannya, banyak teman-teman yang digaulinya di Jerman yang menjadi pejabat di Indonesia dan di pelbagai belahan dunia lainnya. 

Rumah tempat tinggalnya di Koeln adalah merupakan persinggahan para Diplomat Indonesia yang bertugas di Jerman dan Eropa bahkan dari berbagai negara lainnya. 

Syahbuddin regular di kunjungi oleh Habibie, Hasyim Djalal, dll kalau mereka sedang berada di Jerman. Bahkan ketika dia sakitpun, Habibie sampai mencarinya dan mengunjunginya di Rumah Sakit pada awal September lalu. 

Sambil berpelukan dan bertangisan dua sahabat ini menguraikan kisahnya yang didengarkan oleh kepala Klinik „Ortoporc“ Koeln Prof. Dr. med. Joachim Schmidt dan para pengawal Habibie.

Ketika Dr. Joachim Schmidt mengetahui kedatangan dan siapa Habibie, akhirnya dia menjamu Habibie selayaknya tamu negara di kliniknya dan mengajak beliau meninjau dan melihat-lihat perlengkapan klinik ortopedi yang terkenal di Eropa sebagai klinik yang telah berhasil melaksanakan operasi lutut, pinggul, punggung, dll dalam waktu 45 menit dan sesudah operasi si pasien sudah bisa langsung berjalan lagi.

Terjadilah perbincangan serius antara Habibie dengan Schmidt. Sewaktu dalam peninjauan klinik, Dr. Schmidt diam-diam memperhatikan cara jalannya Habibie yang menurutnya harus di laksanakan pengontrolan. 

Habibie begitu puas dengan analisa dan penjelasan Dr. schmidt akan keadaan kesehatannya, akhirnya mengundang Dr. Schmidt untuk datang ke Indonesia melihat dan mencarikan jalan keluarnya penderitaan bangsanya dalam penyakit yang dialaminya ini. 

Dengan senang hati Dr. Schmidt menerima ajakan Habibie untuk datang suatu waktu ke Indonesia untuk melihat dan membantu pasien Indonesia yang bermasalah dengan tulangnya (Orthopedi).

Semoga usaha bapak B.J Habibie ini membawa berkah buat penderita di Indonesia, seperti yang telah dirasakan oleh Syahbuddin yang mengalami operasi lutut dengan Dr. med. J. Schmidt diusia lanjut, sekarang sudah bisa berjalan kembali seperti biasa tanpa keluhan lagi.

Inilah kisah dua orang bersahabat dari masa muda, berkeluarga, jaya, duka dan masa tuanya selalu berbagi bersama....


Pewarta : Mimi Schlueter
Editor :
Copyright © ANTARA 2024