Hepatitis Seringkali Timbul Tanpa Gejala
Selasa, 15 Juli 2014 20:08 WIB
Jakarta, (Antara) - Pakar Gastroenterohepatologi Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta, dr. Irsan Hasan SpPD-KGEH, memperingatkan kepada masyarakat untuk waspada terhadap penyakit hepatitis karena seringkali timbul tanpa gejala (asimptomatis).
"Kebanyakan diketahui terlambat, kebanyakan diketahui setelah terjadi sirosis (benjolan di permukaan hati) atau hepatoma karena tidak ada gejala yang menunjukkan deteksi awal terkena hepatitis, karena itu disebutnya silent killer (pembunuh berdarah dingin)," kata Irsan salam presentasinya pada diskusi Hari Hepatitis Sedunia di Jakarta, Selasa.
Irsan mengatakan gejala yang bermunculan sebagian besar pada saat kondisi sudah parah, yakni nyeri pada perut kanan diikuti dengan ikterus atau warna kuning pada kulit dan sklera mata karena tingginya bilirubin dalam darah.
Dia menambahkan, biasanya penderita hepatitis mengalami gejala awal, yakni merasa lelah.
"Tapi, kita sering juga merasa lelah, kita tidak tahu apakah itu lelah karena hepatitis atau lelah biasa," katanya.
Namun, dia menuturkan rasa lelah tersebut biasanya diikuti demam, lesu, hilang nafsu makan dan mual serta gangguan kesadaran, seperti susah tidur.
"Kalau yang sudah parah biasanya sampai koma," katanya.
Irsan mengimbau masyarakat untuk mengenali penyebab penyakit hepatitis, yakni dari virus (HAV, HAV, HCV, HEV), minuman beralkohol, perlemakan (obesitas), bakter (tifus, leptospira), parasit (malaria, ameba), obat-obatan, autoimunitas serta virus lain (dengue, herpes).
Selain itu, lanjut dia, penyakit tersebut juga menular baik vertikal, yakni keturunan dari ibu pengidap ke bayi yang dikandung atau secara horizontal melalui tindik, narkotika, transfusi darah, hubungan seks berisiko, suntikan dan tato.
"Bisa juga melalui kontak erat, seperti pisau cukur dan sikat gigi kalau darah dari si pengidap masih ada dari benda itu dan berpindah," katanya.
Dia menjelaskan pada jenis hepatitis B,C dan D, virus dapat ditularkan melalui hubungan seks dan melalui darah, sedangkan pada hepatitis A dan E virus dapat ditularkan melalui orofekal, yakni rute penularan penyakit dari feses ke mulut.
Irsan menyarankan untuk segera memeriksakan kesehatan, terutama cek darah untuk mengetahui apakah positif hepatitis atau tidak dengan skrining HBsAg atau Anti Hbs.
Selain itu, dia menambahkan pencegahan juga bisa dilakukan dengan vaksinasi, terutama untuk bayi agar segera divaksin dalam jangka waktu 12 jam setelah lahir.
Pasalnya, lanjut dia, satu dari 10 penduduk Indonesia mengidap Hepatitis B dan satu dari empat pengidap akan meninggal karena kanker atau gagal hati.
"Perlu dicatat, angka kematian yang disebabkan sirosis (benjolah di permukaan hati) dan kanker hati cukup tinggi, selain itu mengobati kedua komplikasi itu cukup sulit," katanya. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
SBY sebut prinsip "the winner takes it all" seringkali tidak cocok dengan bangsa yang majemuk
10 September 2019 6:22 WIB, 2019
Terpopuler - Ragam
Lihat Juga
Cintakan Generasi Cerdas, Masyarakat Pasaman Baru Swadaya Bangun Taman Bacaan-Belajar
21 December 2017 17:05 WIB, 2017