
Rusia Nyatakan Prihatin Atas Kerusuhan di Abkhazia

Moskow, (Antara/Reuters) - Rusia Rabu menyatakan prihatin atas kerusuhan di Abkhazia dan dilaporkan mengirim pembantu Kremlin ke wilayah yang memisahkan diri didukung Moskow, Georgia, setelahpengunjuk rasa mengejar presiden dari markasnya. Para demonstran oposisi tampak mengendalikan akses ke gedung pemerintahan Presiden Alexander Ankvab pada Rabu, setelah menyerbunya Selasa. Ankvab dengan para pejabat keamanan senior berada di satu lokasi dirahasiakan di wilayah pesisir Laut Hitam yang subur. "Saya belum pergi ke mana saja. Saya di Abkhazia," demikian pernyataan laman jejaring sosial presiden seperti dikutip. Dia mengatakan ia mendiskusikan acara dengan Dewan Keamanan dan polisi serta militer untuk "mengambil semua langkah-langkah guna menstabilkan situasi." Lawan dan pendukung Ankvab mengadakan aksi unjuk rasa saingan diibu kota, Sukhumi, dan Kementerian Dalam Negeri mengatakan pihaknya meningkatkan patroli-patroli, namun tidak ada tanda-tanda tindakan keras pada oposisi. Pada Selasa, para demonstran memecahkan jendela dan pintu untuk mengambil kendali markas presiden. Kantor berita Rusia Interfax melaporkan Rabu bahwa pendukung oposisi terus mengontrol gedung pemerintah serta stasiun televisi negara, yang Ankvab katakan telah disita oleh orang-orang bersenjata. Ankvab meninggalkan gedung pemerintah pada Selasa setelah pembicaraan gagal dengan para pemimpin oposisi, sesudah beberapa ribu orang berkumpul untuk melampiaskan kemarahan mereka mengenai dugaan korupsi dan salah urus. Para pemimpin oposisi menyerukan Ankvab untuk mundur, dan diamenuduh mereka berusaha mengambil alih kekuasaan dengan kekerasan. Pertumpahan darah atau kerusuhan berlarut-larut di Abkhazia bisa menyebabkan Rusia sakit kepala, memalukan, dan mengakui daerahdan provinsi separatis lain Georgia, Ossetia Selatan, sebagainegara merdeka setelah pertempuran perang lima hari terhadap Georgiapada tahun 2008. " Pihak Rusia mengikuti kejadian-kejadian dengan erat dan dengankeprihatinan ... serta menganggap penting bahwa proses sosio-politik berkembang secara eksklusif di sepanjang jalur hukum," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan. Media Rusia mengatakan, Vladislav Surkov, seorang pembantu lamaPresiden Vladimir Putin, mengadakan pembicaraan dengan Ankvab Rabu disatu kota di luar Sukhumi dan juga bertemu dengan para pemimpin oposisi. Kremlin tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar. Setelah perang dengan Georgia pada Agustus 2008, Rusia jugamemperkuat kontrol atas Abkhazia, di mana pasukan Rusia membantu menjaga perbatasan de facto dengan wilayah Georgia yang dikuasai pemerintah. Abkhazia memisahkan diri dari kekuasaan Georgia dalam perang 1992-1993 setelah Uni Soviet runtuh. Tetapi hubungan-hubungan dengan Rusia adalah titik politikpertentangan di wilayah tersebut, dengan beberapa orang Abkhazia menyerukan integrasi dengan Rusia dan yang lain mengatakan pihaknya harus lebih mandiri. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
