
PBB: Kongo harus Hentikan Pemulangan ke DRC

Kinshasa, (Antara/AFP) - Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin meminta Kongo-Brazzaville menghentikan pemulangan paksa warga ke negara tetangganya, Republik Demokratik Kongo (DRC). PBB mengatakan Kongo-Brazzaville telah memulangkan lebih dari 130 ribu warga negara DRC sejak 4 April, sehingga menimbulkan bencana parah kemanusiaan. Polisi di ibukota Brazzaville pada 3 April melancarkan operasi untuk mengusir pekerja asing ilegal. Sasaran utamanya adalah warga dari negara tetangga DRC, dengan ibukotanya Kinshasa yang terletak di seberang sungai Kongo dari Brazzaville. DR Kongo yang tengah menghadapi konflik berada di urutan terakhir indeks pertumbuhan PBB dan selama beberapa tahun puluhan ribu warganya menjadi pekerja kasar di Brazzaville yang kondisinya sedikit lebih baik. "PBB telah menerima laporan pelecehan fisik, perlakuan buruk, serta kekerasan seksual terhadap warga DRC yang diusir," katanya dalam sebuah pernyataan. PBB mengatakan, kepala misi MONUSCO di DRC Martin Kobler mengungkapkan keprihatinannya setelah ia mengunjungi kamp transit di pinggir kota Kinshasa dimana ribuan orang yang diusir tersebut dikumpulkan. "Saya mendengar sejumlah pengakuan korban pelanggaran hak asasi manusia berat serta perlakuan kasar," katanya. "Saya mendengar cerita anak-anak yang tenggelam di sungai saat diusir paksa. Saya melihat seorang lelaki terluka oleh peluru dan ibu-ibu yang melahirkan sendiri di pinggir Sungai Kongo. Semua ini harus dihentikan," katanya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
