
Menhan: Sekitar 50 Tentara Tewas Dalam Serangan di Mali Utara

Dakar, (Antara/AFP) - Menteri Pertahanan Mali Soumeylou Boubeye Maiga Ahad mengatakan, sekitar 50 tentara telah tewas dalam pertempuran terakhir dengan para pemberontak bersenjata di kota gurun utara Kidal. "Kami memiliki sekitar 50 orang tewas, sayangnya, dan 48 luka-luka. Kami tidak tahu jumlah korban dari pihak lain, tetapi kita tahu mereka juga mengalami kerugian," kata Maiga kepada penyiaran publik ORTM. Kelompok-kelompok bersenjata termasuk separatis Gerakan Nasional Tuareg untuk Pembebasan Azawad (MNLA) mempermalukan tentara Mali dalam serangan mematikan di seluruh gurun utara pekan lalu, yang menunjukkan mereka menguasai Kidal, 1.500 kilometer (900 mil) timur laut Bamako. Maiga membantah bahwa pendudukan lebih kecil Menaka juga di bawah kendali pemberontak, tetapi mengakui tentara itu "tinggal bersama" dengan kelompok-kelompok bersenjata di kota 660 kilometer (410 mil) dari Kidal itu. "Selain Kidal kami menguasai semua posisi kami di wilayah Kidal,yaitu Tessalit, Aguelhok, dan kemudian di wilayah Gao di Menaka, Ansongo, dan Almoustarat," katanya. Pemerintah Mali pada Jumat menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan MNLA selain dengan Dewan Tertinggi untuk Persatuan Azawad (HCUC) dan Gerakan Arab Azawad ( MAA ) setelah melalui perantaraan Uni Afrika. Kidal adalah tempat lahir gerakan separatis Tuareg Mali, yang ingin kemerdekaan bagi sebagian besar gurun utara yang mereka sebut "Azawad" dan telah meluncurkan beberapa pemberontakan sejak tahun 1960-an. MNLA mengakhiri pendudukan sembilan bulan kantor gubernur Kidal pada November tahun lalu sebagai salah satu syarat kesepakatan perdamaian Juni, yang memuluskan jalan bagi pemilihan presiden. Tetapi proses itu membuat MNLA sangat terpecah, yang tujuan utamanya adalah kemerdekaan Azawad. Sampai perjanjian ditandatangani, kelompok Tuareg menolak untuk mengizinkan tentara pemerintah atau pegawai negeri sipil memasuki Kidal. Negara ini jatuh ke dalam krisis pada Januari 2012, ketika MNLA meluncurkan serangkaian pemberontakan terbaru Tuareg di utara, yang tentara dengan peralatan seadanya siap untuk membelanya. Satu kudeta berikutnya di Bamako menyebabkan kekacauan, dan gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida menguasai Tuareg untuk menguasai gurun utara Mali. Satu operasi militer yang dipimpin Prancis diluncurkan pada Januari 2013 menggulingkan para pegaris keras, namun serangan sporadis terus berlangsung dan permintaan Tuareg untuk otonomi belum diselesaikan. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
