Logo Header Antaranews Sumbar

Seruan Mogok di Turki Setelah Korban Ledakan Tambang Capai 274

Kamis, 15 Mei 2014 15:46 WIB
Image Print

Soma, Turki, (Antara/AFP) - Serikat pekerja terbesar di Turki menyerukan pemogokan besar-besaran pada Kamis di tengah kemarahan karena kecelakaan tambang terburuk yang menelan korban jiwa 274 dan banyak yang masih terperangkap. "Mereka yang mengikuti kebijakan privatisasi... yang mengancam keselamatan pekerja untuk mengurangi ongkos adalah pelaku pembantaian Soma dan harus mempertanggungjawabkanya," tertulis di situs Konfederasi Serikat Pekerja Umum Turki (KESK) yang mewakili 240.000 pekerja. Keputusasaan dan kemarahan meningkat setelah harapan akan kemungkinan penyelamatan para korban yang terjebak di tambang batu-bara yang runtuh di kota Soma, Provinsi Manisa, makin menurun. Ribuan pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Ankara dan Istanbul pada Rabu, mereka menuduh pemerintah dan industri tambang telah lalai. Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan berjanji akan melakukan penyelidikan atas musibah ini tetapi mengelak tudingan bahwa pemerintah bersalah. "Kecelakaan seperti itu bisa terjadi," katanya. "Kita sudah menyaksikan kecelakaan kerja terburuk dalam sejarah kita," kata Erdogan setelah mengunjungi kota Soma di barat provinsi Manisa, sementara para keluarga korban menuntut pengunduran dirinya. Erdogan mengatakan jumlah korban masih belum diketahui, tetapi pengelola tambang memperkirakan masih ada sekitar 120 pekerja yang terperangkap setelah terjadi ledakan pada Selasa akibat kerusakan listrik. Laporan para petugas penyelamat dari tempat kejadian memperkirakan bahwa jumlah korban mungkin jauh lebih banyak. Para korban kebanyakan meninggal karena menghirup gas beracun karbon monoksida. Ia juga tampak mengecilkan kecelakaan ini dengan membandingkannya dengan bencana tambang di tempat-tempat lain "204 orang meninggal di Inggris pada 1862 dan 361 orang pada 1864". Kerusakan listrik diyakini sebagai penyebab ledakan besar di tambang itu, Selasa. Ratusan keluarga dan teman-teman korban yang putus asa berkumpul di dekat gedung tempat Erdogan memberi keterangan pers dan melampiaskan kemarahan, sebagian menendangi mobilnya. Massa yang marah juga memenuhi jalanan. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan sekitar 3.000-4.000 pemrotes di alun-alun Kizilay di jantung kota Ankara, seperti yang juga terjadi di Istanbul. Pada pagi harinya, petugas juga menggunakan gas air mata untuk menghalau arak-arakan sekitar 800 pelajar ke kantor menteri pertambangan dan 50 pengunjuk rasa yang melempar telur-telur busuk pada kantor direktorat penelitian energi di Istanbul, lapor juru foto AFP. Musibah ini menambah tekanan politik bagi Erdogan, yang musim panas lalu menghadapi hujan kritik mengenai skandal korupsi yang melibatkan keluarganya serta orang-orang dekatnya. Menteri Energi Turki, Taner Yildiz, mengatakan 274 pekerja telah dipastikan meninggal sementara amukan api yang hebat menghalangi usaha penyelamatan, meskipun petugas masih berusaha mencari penyintas. "Waktu tidak berpihak pada kita," katanya kepada wartawan dan menambahkan sebanyak 196 jasad korban telah diserahkan pada keluarga. (*/WIJ)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026