
Lakhdar Brahimi Mundur Sebagai Mediator Konflik Suriah

PBB, Amerika Serikat, (Antara/AFP) - Lakhdar Brahimi telah mengundurkan diri sebagai penengah Liga Arab dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bagi Suriah Selasa setelah usaha-usaha internasional untuk menemukan solusi politik bagi perang saudara tiga tahun gagal. "Saya pikir kami bisa memberikan (solusi) tapi karena perpecahan kami belum dapat membuat kemajuan untuk mengatasi konflik tiga tahun itu," kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Ban dan Brahimi muncul bersama untuk mengumumkan pengunduran itu yang mulai berlaku efektif pada akhir bulan ini. Ban mengatakan dia telah menerima pengunduran itu "dengan sangat menyesal" dan mengatakan pengganti diplomat Aljazair dan perunding ulung itu belum dipilih. Brahimi, yang akan bertemu kemudian untuk memberi taklimat kepada para utusan senior di Dewan Keamanan PBB yang beranggota 15 negara, mengatakan dia "sangat sedih ... meninggalkan Suriah dalam keadaan buruk." "Kami disini untuk membantu mereka," kata dia. "Saya mendesak mereka lagi untk memikirkan masa depan mereka ini negeri mereka, masa depan mereka." Brahimi dipilih sebagai penengah internasional untuk konflik Suriah pada 17 Agustus 2012, menggantikan mantan Sekjen PBB Kofi Annan, yang juga gagal menyelenggarakan gencatan senjata. Namun, Ban memuji Brahimi, dengan mangatakan ia telah menghadapi "hal-hal yang tak mungkin" tetapi "tetap dengan penuh kesabaran." Ia menyalahkan pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad dan oposisi atas kegagalan tersebut. Brahimi, 80 tahun, berusaha mengajak dua pihak yang bertikai bertatap muka langsung untuk pertama kali awal tahun ini di Jenewa. Namun, perundingan gagal di babak kedua. Gunakan senjata kimia Dari Washington, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengatakan Selasa rezim Suriah diyakini telah menggunakan senjata kimia termasuk klorin dalam 14 serangan sejak akhir 2013. Fabius, yang sedang melakukan lawatan resmi, di Washington, juga menyuarakan penyesalan Prancis bahwa Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah gagal melaksanakan serangan-serangan atas rezim Suriah sebagai hukuman bagi serangan gas sarin, dengan menyatakan hal itu bisa mengubah segala sesuatu di darat. "Kami menyesalkannya karena kami pikir hal itu akan mengubah banyak hal ... tetapi apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan kami tidak akan menulis kembali sejarah," kata Fabius dalam jumpa pers di Washington. Namun, ia menyatakan bahwa "kami memiliki saksi kredibel untuk penggunaan itu, sedikitnya 14 penggunaan....senjata kimia sejak Oktober 2013." (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
