
SKK Migas: "Lifting" Minyak Bumi 820.000 Barel/Hari

Jakarta, (Antara) - Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana mengatakan target "lifting" minyak bumi pada 2014 dapat sebesar 820 ribu barel/hari, setelah dilakukan optimalisasi pada beberapa titik produksi minyak. "Memang tidak sesuai dengan target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014, yakni 870.000 barel per hari. Namun, setelah kita lihat akan ada potensi-potensi yang sekarang belum dapat kita ekspos," kata Gde Pradnyana di sela sebuah seminar di Jakarta, Selasa. Dia menambahkan, penurunan target dari 870 ribu ke 820 ribu barel per hari, salah satunya karena produksi minyak di lapangan Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, tidak sesuai target untuk dapat berproduksi pada Mei 2014. Blok Cepu yang puncak produksinya dapat mencapai 165 ribu barel per hari, kata dia, baru dapat berproduksi pada November atau Desember 2014 dengan kekuatan 56 ribu barel per hari. Sedangkan puncak produksinya yang mencapai 165 ribu barel per hari, kata dia, akan dapat dicapai pada Januari 2015. Sebelumnya, Blok Cepu ditargetkan sudah dapat berproduksi pada Mei 2014. Daya produksi yang dihasilkan Blok Cepu, menjadi salah satu asumsi target lifting minyak bumi dapat mencapai 870 ribu barel per hari pada 2014. "Cepu pada Agustus saja baru selesai proyeknya. Jadi penambahan20 hingga 30 ribu barrel itu belum bisa dinikmati," ujarnya. Pradnyana dalam seminar itu yang berjudul "Visi Misi dan Rencana Strategis Migas dan CBM" mengatakan jumlah lapangan produksi minyak bumi dan gas di Indonesia memang sudah tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini diserap paling banyak untuk sektor industri dan transportasi. "Produksi kita sudah tidak bisa mengimbangi konsumsi sejak 2004, dan perlu diingat perlu puluhan tahun untuk menikmati hasil produksi dari sumur-sumur baru," tukasnya. Dia mengatakan, lapangan-lapangan produksi minyak yang kini dieksploitasi merupakan sumber minyak bumi dan gas yang sudah dikuras selama 40 tahun terakhir. "Kita memang tidak miliki lapangan baru. Dulu kita tarik minyak yang mengandung air, sekarang kita tarik air yang mengandung minyak," ujar dia. Menurut dia, perlu dukungan pemerintah, terutama dalam hal perizinan untuk mendorong perusahaan-perusahaan dan investor migas dalam melakukan eksplorasi atau pencarian sumur-sumur baru di Indonesia. Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko, mengakui produksi minyak tahun ini memang sulit untuk mencapai target yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2014 sebesar 870 ribu barel per hari, tetapi hanya 840.000 barel per hari. Johannes juga mengatakan, target lifting minyak bumi Indonesia ini terjadi akibat tidak adanya temuan sumur minyak baru dalam beberapa tahun terakhir. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
