Logo Header Antaranews Sumbar

BPS: Perlambatan Sektor Pertambangan Pengaruhi Perekonomian Indonesia

Senin, 5 Mei 2014 14:33 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Badan Pusat Statistik mencatat perlambatan sektor pertambangan dan penggalian akibat penerapan larangan ekspor bahan mineral mentah mempengaruhi perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,21 persen (yoy) pada triwulan I-2014. "Sektor pertambangan dan penggalian karena larangan ekspor bahan mineral tanpa diproses menghambat perekonomian tumbuh pada triwulan satu," kata Kepala BPS Suryamin dalam jumpa pers di Jakarta, Senin. Suryamin menjelaskan larangan ekspor tersebut meskipun baik dalam jangka panjang, namun dalam tiga bulan pertama 2014 telah memberikan kontribusi dalam menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, faktor lainnya yang menghambat pertumbuhan ekonomi adalah perlambatan kinerja sektor pertanian karena adanya pergeseran masa panen yang menurunkan produksi serta penurunan kontribusi pada sektor perdagangan dan jasa keuangan. "Penurunan kontribusi sektor perdagangan masih akibat implementasi undang-undang minerba, sehingga ekspor menurun dan melambat. Selain itu, kontribusi sektor jasa keuangan pada lembaga keuangan non bank dan jasa perusahaan juga menurun," ujarnya. Namun, selain faktor yang menghambat pertumbuhan, ada dua faktor yang membantu ekonomi tumbuh pada triwulan I-2014 yaitu masa kampanye pemilu yang meningkatkan sektor konsumsi dan ekspor komoditas seperti CPO dan karet yang membaik. "Kampanye pemilu meningkatkan konsumsi bahan makanan dan non makanan, sedangkan harga komoditas perkebunan seperti CPO dan karet sedang membaik di pasar internasional," kata Suryamin. BPS mencatat dibandingkan triwulan I-2013, sektor pertanian peternakan kehutanan dan perikanan tumbuh 3,3 persen, industri pengolahan tumbuh 5,16 persen, sektor listrik gas dan air bersih 6,52 persen dan konstruksi 6,54 persen. Selain itu, sektor perdagangan hotel dan restoran tumbuh 4,59 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 10,23 persen, sektor keuangan real estat dan jasa perusahaan tumbuh 6,16 persen dan sektor jasa-jasa tumbuh 5,81 persen. "Sektor komunikasi tumbuh karena peningkatan konsumsi telepon seluler dan layanan data internet, sektor konstruksi tumbuh karena ada pembangunan pabrik smelter, sedangkan sektor listrik tumbuh karena permintaan listrik cukup tinggi," ujarnya. Suryamin menambahkan hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan (yoy) 0,38 persen pada triwulan I-2014 dibandingkan triwulan I-2013, karena dampak pelarangan ekspor mineral dan baru bara. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2014 secara tahunan (yoy) didukung konsumsi rumah tangga 5,61 persen, pembentukan modal tetap bruto 5,13 persen dan konsumsi pemerintah 3,58 persen. Komponen ekspor dan impor, baik barang maupun jasa mengalami kontraksi atau perlambatan 0,78 persen dan 0,66 persen, meskipun pada awal triwulan I-2014 neraca perdagangan masih tercatat surplus. Sementara itu, struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan I-2014 masih didominasi oleh provinsi di Jawa yang masih memberikan kontribusi besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu 58,52 persen dan Sumatera 23,88 persen. Kemudian, pulau Kalimantan memberikan kontribusi sebesar 8,45 persen, Sulawesi 4,72 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,48 persen, sedangkan kontribusi terkecil berasal dari kelompok provinsi di Maluku dan Papua 1,95 persen. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026