
Penyelidik Duga Kapten Kapal Tidak di Anjungan Saat Insiden

Mokpo/Jindo, Korea Selatan, (Antara/Reuters) - Penjaga pantai Korea Selatan membantah laporan bahwa penyelam sudah memasuki bangkai kapal feri yang tenggelam untuk menemukan korban selamat dalam insiden yang diperkirakan menewaskan ratusan penumpang, sebagian besar adalah anak-anak sekolah. Saluran televisi YTN melaporkan bahwa delapan penyelam melakukannya secara bergantian namun penjaga pantai mengatakan bahwa para penyelam belum memasuki badan kapal naas itu. Penjaga pantai juga membantah laporan televisi bahwa seluruh badan kapal telah tenggelam, setelah lebih 48 jam peristiwa itu terjadi. Para pakar mengatakan saat ini hampir tidak mungkin ada diantara 268 penumpang yang sebagian besar siswa-siswa sebuah sekolah di pinggir ibukota Seoul, akan ditemukan selamat. Sejauh ini 28 dari 475 penumpang dan kru feri Sewol dinyatakan tewas dan 179 lainnya selamat. Petugas penyelamat memompakan udara ke dalam ruang makan kapal itu, lokasi dimana banyak penumpang diperkirakan berada. Penyelidikan atas tenggelamnya kapal tersebut, yang merupakan insiden maritim terburuk di Korsel selama 21 tahun dalam hal jumlah korban jiwa, difokuskan pada peran kapten berusia 63 tahun dan kru kapal. "Dia (kapten) kemungkinan tidak berada di anjungan. Dan orang yang berada di belakang kemudi kapal saat itu adalah petugas tingkat tiga," kata Park Jae-eok, seorang pejabat yang ikut dalam tim investigasi, dalam jumpa pers di Mokpo di dekat pelabuhan yang menjadi pusat operasi pencarian. Adalah hal wajar bagi petugas junior untuk memegang kemudi dan perjalanan sejauh 400 km dari pelabuhan Incheon ke pulau peristirahatan Jeju tersebut merupakan perjalanan biasa melintasi perairan yang sudah dikenal baik. Insiden tersebut terjadi di perairan yang tenang dan relatif dangkal, dan para penyelidik fokus pada peran kru karena kapal tersebut juga memiliki catatan keamanan yang bersih. Orangtua korban tenggelam menyalahkan kapten kapal atas tragedi tersebut setelah dia dan pejabat perusahaan perkapalan meminta maaf atas jatuhnya korban jiwa dalam insiden itu. Para saksi mengatakan kapten dan beberapa kru meninggalkan kapal sementara lainnya memerintahkan para penumpang untuk tetap berada di tempat ketika kapal naas itu mulai tenggelam. Teori mengenai penyebab kejadian itu masih simpang siur dan penyelidik menolak berkomentar mengenai laporan bahwa kapal berbelok sebelum tenggelam. Pejabat penjaga pantai mengatakan penyelidikan difokuskan pada kemungkinan kelalaian kru, masalah dalam penyimpanan kargo dan kerusakan struktural pada kapal, meski sudah melewati semua uji keamanan dan asuransi. Kapten kapal Lee Joon-seok menghadapi penyelidikan kriminal, yang merupakan prosedur standar di Korsel. Baik Lee maupun perusahaan pemilik kapal telah meminta maaf atas jatuhnya korban jiwa, namun keduanya tidak mengaku bertanggung jawab. Keluarga korban berada dalam suasana duka di sebuah rumah sakit di Mokpo, tidak jauh dari kota pelabuhan Jindo. Beberapa diantaranya membicarakan soal sikap kapten kapal. "Bagaimana bisa ia mengatakan kepada anak-anak itu untuk tetap disana dan kemudian ia sendiri melompat dari kapal yang tengah tenggelam?" kata Ham Young-ho, kakek seorang korban tewas, Lee Da-woon (17). Lee tidak membuat pernyataan publik mengenai apakah atau kenapa ia meninggalkan kapal sebelum penumpang. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
