Logo Header Antaranews Sumbar

Menhan Rusia-Ukraina Bahas Peredaan Situasi di Krimea

Kamis, 20 Maret 2014 16:47 WIB
Image Print

Moskow, (Antara/ITAR-TASS/AFP) - Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan pejabat Menteri Pertahanan Ukraina Igor Tenyukh Kamis membahas melalui telepon mengenai "berbagai aspek krisis di Ukraina dan langkah-langkah ke arah peredaan situasi di semenanjung Krimea." Hal itu dikemukakan oleh layanan pers Kementerian Pertahanan Rusia kepada Itar-Tass pada Kamis. Percakapan telepon berlangsung atas inisiatif Ukraina pada 19 Maret. Shoigu dan Tenyukh setuju untuk melanjutkan kembali kontak mereka, kata layanan pers Kementerian Pertahanan Rusia menambahkan. Sehari sebelumnya, para pemrotes pro-Rusia menyerbu markas angkatan laut Ukraina di Krimea Rabu setelah Moskow mengklaim semenanjung itu dan korban pertama jatuh dalam krisis terburuk Timur-Barat sejak Perang Dingin tersebut. Seorang juru bicara angkatan laut Ukraina mengataan massa dari ratusan pegiat yang marah di kota pelabuhan Sevastopol, Ukraina memaksa satu kelompok personil mengurung mereka di dalam gedung itu untuk menghindari konfrontasi langsung. "Ada sekitar 200 personil, mereka tidak bersenjata dan kami tidak melepaskan tembakan," kata juru bicara Sergiy Bogdanov kepada AFP. "Para personil itu tetap bertahan di dalam gedung itu,." katanya dan menambahkan para personil tidak berniat mengunakan senjata mereka. Presiden Vladimir Putin mengabaikan kemarahan internasional dan sanksi-sanksi Barat Selasa menolak untuk menandatangani satu perjanjian mundur dari semenanjung Ukraina dan memperluas perbatasan-perbatasan Rusia untuk pertama kali sejak Perang Dunia II. Momen yang sangat kontroversial dan bersejarah itu terjadi kurang dari sebulan setelah penggulingan di Kiev pemerintah dukungan Moskow oleh para pemimpin yang memelopori tiga bulan protes berdarah tiga bulan yang bertujan untuk melepaskan Ukraian dari orbit Kremlin untuk pertama kali. Putin menanggapi dengan memenangkan hak untuk menggunakan pasukan terhadap tetangga bekas Sovyetnya dan kemudian menggunakan bantuan milisi lokal untuk menguasai wiayah Laut Hitam, Krimea. Tetapi pertumpahan darah pertama terjadi di semenanjung yang berpenduduk dua juta jiwa beberapa jam kemudian ketika satu kelompok pria bersenjata yang mengenakan masker tetapi tidak berseragam militer menyerbu satu pusat militer Ukraina di Simferopol. Kemeterian pertahanan Ukraina mengatakan seorang tentara tewas akibat luka di leher dan seorang lainnya menderita luka-luka. Polisi Krimea pro-Rusia mengatakan seorang anggota milisi lokal juga tewas. Seorang juru bicara menyalahkan bahwa kedua korban itu ditembak oleh para penyerang yang tidak dikenal dari satu lokasi terdekat. Aksi kekerasan itu memicu Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk memperingatkan dalam satu pertemuan darurat pemerintah bahwa "Konflik itu berubah dari satu politik ke satu tahap militer. "Tentara Rusia mulai menembaki tentara Ukraina, dan itu adalah satu kejahatan perang," kata perdana menteri dukungan Barat itu. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026