
Sekjen PBB dan Menlu Venezuela akan Bahas Protes di Karakas

Karakas, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua akan bertemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon,Selasa di Jenewa membicarakan protes-protes tiga pekan yang melanda negara kaya minyak itu. Demonstrasi-demonstrasi baru anti-pemerintah terjadi Sabtu,dengan para pemrotes menyerukan pembebasan puluhan aktivis yang ditahan dalam unjuk raa yang telah menewaskan 18 orang itu. Para demonstran, yang juga diikui anggota parlemen oposisi Maria Machado, membentuk satu konvoi sekitar 500 mobil dan sepeda motor dan mengelilingi ibu kota itu menentang "penyiksaan dan penindasan" yang dilakukan pemerintah." Tindakan itu terjadi setelah aksi kekerasan baru antara pasukan keamanan dan para demonstran. Ban mendeak pemerintah Venezuela dan oposisi awal pekan ini untuk melakukan usaha-usaha yang konkret menuju pada dialog untuk mencegah perpecahan rakyat negara itu. Perundingan antara Ban dan Jaua akan diselenggarakan kerangka pertemuan Komisi PBB mengenai Hak Asasi Manusia. Itu "akan merupakan kesempatan paling baik untuk menjelaskan bagaimana pemerintah memajukan proses perdamaian dan tindakan yang akan dllakukan agar Venezuela pulih kembali setelah gangguan-gangguan ini, aksi-aksi kekerasan ini," kata Dubes Venezuela untuk PBB Jorge Valero kepada kantor berita Noticias 24. Para pemrotes berikrar akan memboikot perayaan karnaval tahunan sebagai tanda untuk menghormati mereka yang tewas. "Kami menghormati mereka yang meninggal. Tidak ada karnaval, tidak sesuatupun untuk dirayakan," kata mahassiwa teknik Argenis Arteaga kepada AFP pada saat protes itu. Setidakya 41 orang termasuk beberapa wartawan asing ditahan dalam bentrokan Jumat itu. Pasukan keamanan Garda Nasional menggunakan meriam-meriam air dan gas air mata untuk membubarkan unjuk-unjuk rasa yang dipimpin mahasiswa di distrik Chacao, Karakas itu. Para pemrotes memasang barikade-barikade dan menanggai kambali dengan tindak pihak psuan eamana deanganmelempark bom-bo Molotov. Maduro menyebut protes-protesit yang dimulai 4 Februari sebagai usaha "kudeta" yang didukung Washngton. Ia mengklaim para pemimpin oposisi yang radika bergabung dengan para mahasiswa yang marah pada inflasi yang tinggi dan kekurangan bahan-bahan kebutuhan pokok bersekongkol untuk menggulingkan pemerintahnya yang berumur hampir setahun itu. Di antara mereka yang ditahan Jumat itu adalah delapan warga asing "ditahan karena terorisme internasional," kata stasiun televisi pemerintah VTV dalam satu pernyataan singkat. Mereka termasuk wartawan lepas Andrew Rosati, yang menuis untuk surat kabar Miami Herld, satu tim wartwan dari Associated Press yang bermarkas di AS dan juru foto Italia Francesca Commissari, yang bekerja untuk surat kabar El Nacional. Forum Penal Venezuela mengatakan pekan ini bawa 33 kasus " perlakukan yang tidak manusiawi dan kejam atau penyiksaan" telah dilaporkan kepada ombudsman publik. Pemerintah Venezuela mengatakan pihaknya sedamg mememeriksa 27 kasus pelanggaran hak asasi manusia, kendatipun tida kmerinci mengenai kemungknan pelanggaran itu. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
