Logo Header Antaranews Sumbar

Dua Tentara Yaman, Tiga Bersenjata Tewas Dalam Bentrokan

Sabtu, 1 Maret 2014 13:57 WIB
Image Print

Sanaa, (Antara/KUNA-0ANA/AFP) - Lima orang, termasuk dua tentara tewas dalam serangan oleh militan Houthi di sebuah pos pemeriksaan keamanan di dekat satu gedung pemerintah di gubernuran utara Al-Jawf pada Jumat. Serangan dan baku-tembak itu menyebabkan empat orang lainnya luka-luka, kata sumber-sumber lokal. Mereka mencatat bahwa salah satu penyerang ditangkap, termasuk dua tentara yang terluka dalam baku tembak dengan militan Huthi pada Jumat. Kantor Gubernur Al-Jawf mengutuk, dalam siaran pers, bahwa serangan-serangan telah berulang dilakukan pada militer dan personel keamanan serta para penjaga gedung pemerintah. Pernyataan itu mendesak semua warga Yaman untuk melindungi supremasi hukum, lembaga tinggi negara dan konstitusi dalam rangka prinsip-prinsip yang disepakati dalam dialog nasional baru-baru ini. Sementara itu sedikitnya 24 orang tewas Jumat ketika pasukan Yaman yang dibantu sekutunya bentrok dengan gerilyawan Syiah di wilayah utara negara tersebut, kata beberapa sumber suku. Bentrokan itu terjadi antara pasukan yang dibantu anggota-anggota partai kubu Islam Al-Islah dan gerilyawan Syiah Zaidi, untuk memperebutkan kendali atas kantor-kantor pemerintah daerah di Hizm, ibu kota Provinsi Jawf. "Militer dan Al-Islah kehilangan delapan orang, sementara pemberontak Syiah kehilangan dua kali lipat dari jumlah itu, dan ada puluhan orang yang cedera di kedua pihak," kata satu sumber kepada AFP. Sebelumnya pada Februari, presiden Yaman dan partai-partai utama setuju mengubah negara yang dilanda kekerasan itu menjadi sebuah federasi enam wilayah sebagai bagian dari transisi politik. Gerilyawan Syiah tampaknya berusaha menguasai Hizm agar dapat menggabungkan seluruh daerah Jawf ke dalam wilayah Azal, salah satu dari empat wilayah yang akan dibentuk di Yaman bagian utara. Namun, hingga saat ini pengaturannya tetap, Jawf akan menjadi bagian dari wilayah Saba, yang juga mencakup Provinsi-Provinsi Marib dan Bayda. Baik pemberontak tersebut maupun separatis selatan menolak struktur federal yang diusulkan, yang juga akan membentuk dua wilayah di Yaman bagian selatan. Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka. Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). Gerilyawan Al Qaida memperkuat keberadaan mereka di Yaman tenggara, dengan memanfaatkan melemahnya pemerintah pusat akibat pemberontakan anti-pemerintah yang meletus pada Januari 2011 yang akhirnya melengserkan Presiden Ali Abdullah Saleh. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026