
Pemimpin Protes Thailand Bersedia Bicara dengan Perdana Menteri

Bangkok, (Antara/Reuters) - Pemimpin protes anti-pemerintah Thailand Suthep Thaugsuban Kamis mengatakan ia bersedia tampil dalam debat langsung Televisi dengan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, setelah beberapa pekan menolak segala bentuk perundingan. "Saya siap untuk menjadi wakil rakyat dan berbicara politik dengan Yingluck," katanya kepada para pendukungnya." Katakan saja kapan dan di mana," katanya. "Beri kami dua kursi dan mikrofon dan siarkan secara langsung di televisi sehingga rakyat bisa melihat," kata mantan wakil perdana menteri Suthep Thaugsuban yang juga mantan anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Sekjen Komite Reformasi Demokratis Rakyat (PDRC) anti-pemerintah. Sementara itu Perdana Menteri sementara Yingluck Shinawatra tidak muncul dalam pembacaan dakwaan badan anti-korupsi yang memanggilnya atas tuduhan melalaikan tugas dan hanya mengirimkan tim kuasa hukumnya pada Kamis. Wittaya Arkompitak, wakil sekretaris Komisi Antikorupsi mengatakan bahwa para petugas telah mencapai kesepakatan dengan pengunjuk rasa untuk memberi mereka akses masuk ke bangunan itu melalui pintu masuk belakang. "Jika tim kuasa hukumnya mendengarkan dakwaan atasnya, dia mempunyai waktu 15 hari untuk mengemukakan bukti dan setelah itu NACC akan melanjutkan kasusnya," kata Wittaya kepada Reuters. Yingluck membantah telah melakukan kelalaian dan menuding badan tersebut membuat langkah bias. Ia menekankan bahwa kasus korupsi beras yang melibatkan pemerintahan sebelumnya belum ada perkembangan setelah lebih dari empat tahun. "Yingluck tidak mendapatkan perlakuan adil dari NACC," kata Prompong Nopparit, kuasa hukum partai yang dipimpin Yingluck Puea Thai. "Badan itu hanya memberi waktu 21 hari untuk memeriksa kasusnya, sementara penyelidikan kasus beras yang melibatkan Partai Demokrat berlangsung selama bertahun-tahun. Standarnya harus sama untuk Partai Demokrat dan Yingluck." Serangkaian unjuk rasa telah memicu kekerasan dimana 21 orang tewas dan 700 lainnya cedera. Amerika Serikat dan Uni Eropa mendesak semua pihak di Thailand untuk menahan diri. Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan ia siap membantu untuk menemukan solusi atas kebuntuan politik yang terjadi di Thailand. "Ia mendesak semua pihak untuk segera melakukan dialog yang berarti dan inklusif untuk mengakhiri krisis dan reformasi berjalan sewajarnya," kata kantor Ban dalam satu pernyataan. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
