
Orang Bersenjata Mengenakan Burqa Serang Kepolisian Afghanistan

Kabul, (Antara/AFP) - Tiga pria penyerang bunuh diri memakai burqa menyerang satu markas polisi dekat ibu kota Afghanistan Kabul pada Jumat, kata para pejabat, menewaskan seorang polisi pada saat kekhawatiran meningkat atas keamanan menjelang pemilihan presiden. Para gerilyawan ditembak mati ketika mereka menyerbu pangkalan polisi di Kabupaten Sarobi, 50 kilometer (30 mil) di timur Kabul, setelah penyerang bunuh diri lain tewas ketika ia meledakkan bom kendaraan di luar pintu masuk. Kelompok Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan dua jam itu, yang terjadi di kabupaten yang sama di mana konvoi calon presiden Abdullah Abdullah sejenak berada di bawah tembakan pada Rabu. "Hari ini pada sekitar pukul 06.20 waktu setempat, seorang pembom bunuh diri mengendarai mobil meledakkan dirinya di gerbang pintu masuk markas polisi Sarobi," kata Jenderal Mohammad Zahir, kepala kepolisian provinsi Kabul kepada AFP. "Tiga teroris lainnya mengenakan burqa wanita memasuki halaman gedung dan mulai menembak serta melawan pasukan polisi dan tentara. "Sebagai akibat serangan itu, seorang petugas tewas dan tiga lainnya luka-luka." Para gerilyawan pria yang sebelumnya semua menggunakan burqa - penutup wajah untuk menyamarkan diri mereka dan menghindari pemeriksaan keamanan di Afghanistan, termasuk dalam serangan 2012 ketika empat tentara Prancis tewas. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan, para pemberontak yang digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001, berada di balik serangan Jumat. "Para pejuang mujahidin yang dilengkapi dengan senjata berat dan ringan serta rompi bunuh diri, menyebabkan korban berat pada musuh," katanya dalam sebuah pernyataan email. Sarobi, jalan utama antara Kabul dan Kota Jalalabad, adalah sebuah kabupaten yang mudah berubah di daerah yang dipandang sebagai kunci untuk melindungi ibu kota. Rakyat Afghanistan pergi ke tempat-tempat pemungutan suara pada 5 April untuk memilih pengganti Presiden Hamid Karzai, ketika sekitar 55.000 prajurit tempur pimpinan AS menarik diri dari negara itu, setelah 13 tahun dengan sengit memerangi pemberontakan Taliban. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
