Logo Header Antaranews Sumbar

Polusi Lalu Lintas Tingkatkan Resiko Autisme

Selasa, 27 November 2012 17:10 WIB
Image Print

Los Angeles, (ANTARA/Reuters) - Bayi dalam kandungan atau pada usia pertama yang terkena polusi udara lalu lintas kendaraan berpotensi menjadi anak autis, kata satu penelitian di Amerika Serikat. Para peneliti menemukan hubungan antara autisme dan nitrogen dioksida yang terdapat dalam emisi mobil, truk, dan kendaraan lainnya. Penemuan penelitian yang dipublikasikan di Archives of General Psychiatry itu sejalan dengan studi sebelumnya yang menghubungkan antara resiko autisme dengan anak-anak jalanan. "Kami tidak menyatakan bahwa polusi lalu lintas menyebabkan autisme, namun terdapat faktor resiko dalam hal itu," kata asisten profesor Keck School of Medicine of the University of Southern California, Heather Volk, di Los Angeles. Jumlah anak yang menderita autisme telah meningkat di Amerika Serikat, dengan rasio satu berbanding 88 kelahiran. Spektrum autisme sangat luas, dimulai dari ketidakmampuan melakukan komunikasi dan keterbelakangan mental sampai gejala ringan yang ditemukan dalam kasus "Asperger's Syndrome". Naiknya jumlah penderita autisme itu diikuti dengan meningkatnya lembaga yang meneliti hal tersebut. Studi terbaru Volk adalah salah satu yang ingin mencari keterhubungan antara faktor-faktor lingkungan dengan resiko anak menjadi autis. "Hubungan-hubungan itu menurut saya kurang diteliti sampai baru-baru ini," kata Volk. Dalam studi sebelumnya, Volk dan teman-temannya menggunakan anak jalanan sebagai substitusi keterpaparan pencemaran. Kali ini, mereka mencari pengukuran kualitas udara di sekitar rumah anak-anak. Dibandingkan dengan 245 anak California yang tidak menderita autis, para peneliti itu menemukan bahwa 279 anak autis terkena polusi udara dalam level tertinggi dua kali lebih banyak saat berada dalam kandungan dan tiga kali lebih banyak saat berada pada usia pertama. Mereka menemukan bahwa anak yang terkena "materi partikulat" --campuran asam, logam, tanah dan debu -- paling banyak mempunyai resiko dua kali lipat menderita autis. Volk dan teman-temannya juga melihat hubungan yang mirip antara autisme dan nitrogen dioksida yang terdapat dalam emisi mobil, truk, dan kendaraan lainnya. "Hal tersebut (nitrogen dioksida) adalah faktor resiko yang bisa kita hindari dan secara potensial mengurangi resiko autisme," tulis peneliti dari University of North Carolina, Geraldine Dawson, dalam sebuah email kepada Reuters Health. Dawson juga menulis editorial dalam studi Volk. Para peneliti mengatakan beberapa polutan dapat mempengaruhi perkembangan otak, namun hal itu tidak begitu saja membuktikan bahwa polusi udara membuat anak terkena autisme. Mereka mengingatkan bahwa mungkin ada faktor-faktor lain seperti polusi dalam ruangan dan perokok pasif. "Ada beberapa penjelasan yang akan kami uji dalam penelitian kami dan akan dipublikasikan selanjutnya," kata Volk. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026