
Gerilyawan Irak Bunuh Enam Anggota Milisi Sahwa

Baghdad, (Antara/Reuters) - Gerilyawan yang memakai seragam militer hari Minggu membunuh sedikitnya enam anggota milisi Sahwa pro-pemerintah di sebuah pos pemeriksaan dekat kota Baquba, 65 kilometer timurlaut Baghdad, kata polisi Irak. Korban mencakup seorang pemimpin Sahwa setempat dan dua putranya, kata polisi. Sahwa terbentuk dari orang-orang suku Sunni Arab yang berpihak pada militer AS memerangi Al Qaida sejak akhir 2006, dan tindakan mereka itu telah mengubah peta perang di Irak. Militan Sunni menganggap anggota Sahwa sebagai pengkhianat dan mereka sering menjadi sasaran serangan. Tahun lalu merupakan masa paling mematikan di Irak sejak 2008 dimana hampir 9.000 orang tewas, menurut data PBB. Ketegangan di Irak tinggi tahun ini sejak gerilyawan terkait Al Qaida dan militan Sunni lain menguasai kota Falluja pada 1 Januari. Sumber-sumber medis dan kepolisian mengatakan, jumlah korban tewas dalam kekerasan Sabtu naik menjadi sedikitnya 32, termasuk enam orang yang terlibat dalam serangan terhadap sebuah penjara remaja di Baghdad, dan 75 orang cedera. Dalam serangan larut malam, orang-orang bersenjata membunuh dua prajurit tidak bertugas yang bepergian dengan sebuah mobil di dekat kota minyak Baiji, 180 kilometer sebelah utara Baghdad, kata polisi. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon menyatakan khawatir atas kekerasan yang terus berlangsung dan mendesak para pemimpin Irak menangani penyebab yang mendasarinya. Kekerasan di Irak telah mencapai tingkatan yang belum pernah terlihat sejak 2008, ketika negara itu mulai bangkit dari konflik sektarian mematikan pada 2006-2007 yang merenggut puluhan ribu jiwa. Serangan Minggu itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya. Irak dilanda kemelut politik dan kekerasan yang menewaskan ribuan orang sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak. Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni. Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
