Logo Header Antaranews Sumbar

Ketua Oposisi Kamboja Serukan Pembicaraan dengan PM Hun Sen

Sabtu, 28 Desember 2013 21:53 WIB
Image Print

Phnom Penh, (Antara/Xinhua-0ANA) - Pemimpin oposisi Kamboja Sam Rainsy pada Sabtu menyerukan pembicaraan dengan partai berkuasa Perdana Menteri Hun Sen atas sengketa politik sejak pemilihan umum Juli. "Kami ingin mengirim pesan kepada Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang berkuasa yang seharusnya menjadi waktu untuk saling bertemu menemukan solusi bagi krisis politik saat ini, karena masalahnya telah makin membesar dan lebih rumit," kata Ketua Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP), Sam Rainsy, dalam konferensi pers. "Saya berharap bahwa akan ada pembicaraan besar-besaran di awal tahun depan, mungkin pada tanggal 1, 2 atau 3," katanya, seraya menambahkan bahwa hal itu akan baik jika pembicaraan juga dapat dihadiri oleh perwakilan dari partai politik lainnya, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas bisnis. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Sar Kheng mengatakan CPP selalu menyambut pembicaraan dengan CNRP. "Untuk waktu yang lama, CPP telah terjebak dengan sikap perundingan dengan CNRP. Ini adalah karena CNRP sendiri yang tidak teratur dan selalu berubah sikap," katanya kepada wartawan di Bandara Internasional Phnom Penh saat menyambut kedatangan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dari kunjungan di Vietnam. Sejak 15 Desember, CNRP telah meluncurkan putaran baru protes harian dan ribuan pendukung yang dipimpinnya melalui jalan-jalan di ibu kota Phnom Penh untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Hun Sen, dan mengadakan pemilihan ulang karena tuduhan penyimpangan serius selama pemilu Juli. Hasil pemungutan suara Juli menunjukkan bahwa partai yang berkuasa Hun Sen menang dengan mayoritas suara 68 kursi parlemen dibanding 55 kursi untuk partai oposisi pimpinan Sam Rainsy, tetapi oposisi menolak untuk menerima hasilnya dan telah memboikot parlemen sejak saat itu. Wakil presiden CNRP Kem Sokha mengatakan Sabtu bahwa meskipun seruan untuk pembicaraan dengan CPP, partai masih terus menggelar protes sehari-hari, terutama protes besar-besaran pada Minggu 29 Desember. Selain protes anti-pemerintah, oposisi, puluhan ribu pekerja garmen telah malakukan pemogokan nasional sejak Rabu setelah pemerintah memutuskan untuk menaikkan upah minimum bulanan di sektor garmen menjadi 95 dollar AS dari April dan seterusnya dari saat ini 80 dolar AS, tetapi serikat buruh pro-oposisi tidak setuju dengan kenaikan upah baru dan menuntut pemerintah untuk melipatgandakan upah untuk pekerja pada 2014. Pada Jumat, polisi anti huru hara dan pekerja pemrotes bentrok singkat di Zona Ekonomi Khusus Phnom Penh, menyebabkan setidaknya tiga polisi dan empat pekerja terluka. Menurut Kheng Tito, juru bicara Polisi Militer Nasional, bentrokan itu terjadi ketika ribuan pekerja yang mogok memblokir Jalan Nasional No 4 di depan zona di pinggiran Phnom Penh dan melemparkan batu ke arah polisi dan pabrik-pabrik. Pada Sabtu, pekerja pemrotes masih memblokir jalan. Presiden CNRP Sam Rainsy, bersama dengan antek-anteknya, telah menghasut pekerja yang mogok untuk bergabung dengan protes anti- pemerintahnya dengan menjanjikan untuk meningkatkan upah minimum mereka menjadi 160 dolar AS jika pihaknya berkuasa. Hun Sen mengatakan pada 20 Desember bahwa ia tidak akan mundur atau menyerukan pemilihan ulang karena ia tidak melakukan kesalahan apa pun. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026