Menilik semangat petani muda Alahan Panjang menuju pertanian ramah lingkungan

id Menilik semangat petani muda, Alahan Panjang, menuju, pertanian ramah lingkungan

Menilik semangat petani muda Alahan Panjang menuju pertanian ramah lingkungan

Menilik semangat petani muda Alahan Panjang menuju pertanian ramah lingkungan. ANTARA/HO-Dokumen Pribadi.

Solok (ANTARA) - Selain terkenal akan keindahan alamnya yang sangat memukau, Nagari (Desa) Alahan Panjang terletak di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu juga terkenal akan tanahnya yang subur dan udaranya yang sejuk.

Alahan Panjang adalah daerah penghasil komoditas hortikultura unggulan seperti bawang merah yang merupakan produk terbesar kedua setelah Brebes, serta kentang, kol, cabai, dan markisa.

Selain itu, pertanian hortikultura menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat, dengan hasil pertanian yang dipasarkan ke kota-kota besar dan luar daerah.

Tidak hanya itu, bahkan Alahan Panjang juga merupakan pusat pemberdayaan tanaman hortikultura terbesar di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Hasil pertanian dari Alahan Panjang tidak hanya dipasarkan ke kota-kota terdekat seperti Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh, tetapi juga ke luar daerah seperti Pekanbaru dan Pulau Jawa.

Kendatipun demikian, saat ini Nagari Alahan Panjang terkenal akan istilah "Lembah Tengkorak," karena banyaknya petani di daerah itu yang menggunakan pestisida atau pupuk kimia untuk pertanian.

Penggunaan pestisida berlebihan dapat menyebabkan keracunan akut dan kronis pada manusia, mengganggu sistem saraf, reproduksi, dan perkembangan janin, serta meningkatkan risiko penyakit seperti kanker, Parkinson, dan masalah mental.

Kelompok rentan, termasuk ibu hamil, anak-anak, dan pekerja pertanian, memiliki risiko lebih tinggi terhadap efek berbahaya pestisida. Gejala keracunan bisa berupa iritasi kulit, mual, pusing, muntah, hingga gangguan pernapasan, sementara paparan jangka panjang berpotensi menyebabkan penyakit serius.

Menyikapi hal itu, para petani muda di daerah tersebut mulai resah akan fenomena ini yang akan berdampak buruk bagi generasi ke depannya.

Ketua Petani Milenial Sumbar Hariyanda Ade di Solok mengatakan saat ini para petani harus kembali pada sistem pertanian ramah lingkungan, yakni dengan menggunakan pupuk organik yang tidak merusak lingkungan dan kesehatan.

"Alahan panjang terkenal akan penggunaan pestisida yang sangat banyak sekali. Menyebabkan polusi dan emisi yang berlebihan terhadap lingkungan," kata dia.

Menurutnya Alahan Panjang sangat penting menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan. Harus ada pelatihan tentang ramah lingkungan untuk generasi berikutnya.

Susahnya mengubah pemikiran

Ia mengatakan saat ini memang tidak mudah mengubah pemikiran masyarakat setempat untuk kembali ke sistem pertanian ramah lingkungan. Bahkan sulit mengubah kebiasaan masyarakat yang bergantung pada pestisida.

Pemahaman petani yang sangat susah diubah. Untuk mengurangi 100 persen tidak bisa karena mereka bergantung pada pestisida sudah sejak lama.

Membangkitkan semangat petani milenial

"Saat ini tugas kita adalah membangkitkan kembali kesadaran generasi muda akan pentingnya kesehatan," ujar Nanda.

Hal itu, kata dia dilakukan dengan mengadakan pelatihan tentang pertanian ramah lingkungan.

Selain itu, saat ini para petani milenial Alahan Panjang tengah mengikuti pelatihan tentang pertanian ramah lingkungan di Hortisius Agriculturae Centrum, Taratak Pauh, Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.