Simpang Empat (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan Holtikultura (DTPH) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat melaksanakan program strategi peningkatan produksi padi berbasis kolaborasi (SP3BESI) dalam upaya meningkatkan produksi padi di daerah itu.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Pasaman Barat Doddy San Ismail di Simpang Empat, Kamis, mengatakan program itu dilakukan melalui pendekatan berbasis kolaborasi antara petani, dinas dan pihak terkait lainnya mulai dari hulu sampai hilir.
Menurutnya latar belakang program ini didasari oleh belum optimalnya produksi padi karena adanya permasalahan mulai dari pertanaman, pemeliharaan sampai pemasaran.
"Dibutuhkan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya peningkatan produksi," katanya.
Penyebab masih belum optimalnya produksi padi itu, kata dia, diantaranya belum optimalnya produksi dan produktivitas pertanian tanaman pangan, tingginya laju konversi lahan pertanian ke non pertanian, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tidak terkendali, masih terbatasnya akses petani ke permodalan dan teknologi dan masih kurangnya kualitas sumber daya manusia petani serta menurunnya kesuburan tanah.
"Indeks pertanaman petani juga masih bisa dioptimalkan sebab saat ini rata-rata masih dua kali setahun. Selain alih fungsi lahan juga diharapkan dapat berkurang dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Nomor 5 Tahun 2023," katanya.
Menyikapi hal itu pihaknha meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait serta bersama-sama mendampingi petani dalam meningkatkan produksi, melakukan pengawalan petani dimulai dari penyediaan benih bersertifikat, pupuk bersubsidi, penggunaan tekhnologi, pengendalian serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT.
Lalu pelaksanaan pembekalan kepada penyuluh dan petani sangat diperlukan, pengolahan tanah yang benar dan pemberian bahan organik dapat mengatasi menurunnya kesuburan tanah, implementasi Perda LP2B di kalangan masyarakat dapat mengatasi tingginya laju alih fungsi lahan.
Dia menyebutkan strategi peningkatan produksi padi berbasis kolaborasi melalui dukungan benih bersertifikat berkolaborasi dengan Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Sumbar agar hasil padi lebih tinggi.
Lalu pelatihan tekhnologi tanaman padi sawah bagi kelompok tani sesuai GAP dan GHP berkolaborasi dengan Badan Riset Mekanisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Sumbar sehingga petani dapat menjual padi dengan harga tinggi.
Kemudian pelatihan pengendalian OPT bagi kelompok tani berkolaborasi dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sumbar sehingga tidak terjadi gagal panen.
"Peningkatan sumber daya manusia petani pada kegiatan pascapanen agar hasil produksi bisa meningkat harga jualnya melalui pendampingan dari Unversitas Andalas Padang. Juga berkolaborasi dengan PLN melalui pengunaan tenaga listrik atau Huller Listrik yang memberikan manfaat mengurangi biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) efisiensi waktu dan tenaga, ramah lingkungan tidak bising," sebutnya.
Pihaknya juga telah berkolaborasi dengan stakeholder dalam peningkatan produksi melalui Sawah Pokok Murah (SPM).
Peningkatan produksi padi melalui kolaborasi dengan DPTPH Sumbar, BRMP dan UNAND mengadakan Kegiatan Sawah Pokok Murah (SPM) juga telah diterapkan di Pasaman Barat melalui Kelompok Tani Tirto Sari Kecamatan Luhak Nan Duo pada 28 Mei 2025.
"Sistem penerapan budidaya padi sawah SPM ini dapat menghemat pemakaian benih dan sarana produksi lainnya, mencapai 60 persen lebih, menghemat biaya pengolahan lahan," ujarnya.
Pada semester 1 periode Januari-Juni produksi padi di Pasaman Barat mencapai 41.247 ton yang berada di lahan tanam seluas 6.485 hektare.
Pihaknya menargetkan jumlah tanam padi selama 2025 seluas 20.321 hektare.
