Logo Header Antaranews Sumbar

Pemberontak Kolombia Farc Umumkan Gencatan Senjata

Selasa, 20 November 2012 07:30 WIB
Image Print

Havana, (ANTARA/AFP) - Pemberontak kiri Kolombia FARC mengumumkan gencatan senjata sepihak selama dua bulan, Senin, pada awal perundingan di Kuba dengan pemerintah Bogota untuk mengakhiri konflik terlama Amerika Latin. "Kepemimpinan (FARC) telah memerintahkan penghentian semua operasi militer terhadap pasukan pemerintah," kata kepala delegasi Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) Ivan Marquez ketika tiba di tempat pertemuan di Havana. Marquez mengatakan, gencatan senjata itu mulai berlaku Selasa tengah malam (pukul 12.00 WIB) dan berlangsung hingga 20 Januari 2013. Para perunding dari pemerintah Presiden Kolombia Juan Manuel Santos tidak memberikan pernyataan ketika mereka tiba di pusat konvensi di ibu kota Kuba tersebut. Kedua pihak secara simbolis membuka perundingan itu di Norwegia bulan lalu, yang meningkatkan harapan bahwa konflik puluhan tahun yang menewaskan ratusan ribu orang itu akan bisa berakhir. Ketua tim perunding pemerintah Humberto de la Calle mengatakan sebelum meninggalkan Bogota, babak perundingan itu mungkin akan berlangsung sekitar 10 hari, yang akan menentukan tanggal untuk memulai babak selanjutnya. Negosiasi untuk mencapai perjanjian final akan berlangsung "beberapa bulan, tidak bertahun-tahun", kata de la Calle. Pemerintah Kolombia dan FARC memulai dialog di Oslo, ibu kota Norwegia, pada 18 Oktober yang bertujuan mengakhiri konflik setengah abad yang telah menewaskan ratusan ribu orang. Tiga upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik itu telah gagal. Babak perundingan terakhir yang diadakan pada 2002 gagal ketika pemerintah Kolombia menyimpulkan bahwa kelompok itu menyatukan diri lagi di sebuah zona demiliterisasi seluas Swiss yang mereka bentuk untuk membantu mencapai perjanjian perdamaian. Kekerasan masih terus berlangsung meski upaya-upaya perdamaian dilakukan oleh kedua pihak. Pihak berwenang Kolombia mengatakan pada 12 November, gerilyawan FARC menyerang sebuah kantor polisi dengan bom-bom rakitan, mencederai 25 orang. Lebih dari 60 rumah di kota Suarez juga rusak akibat ledakan-ledakan pada 11 November larut malam di wilayah Cauca, kata Kolonel Polisi Ricardo Alarcon. Pada 20 Oktober, lima prajurit Kolombia tewas dalam bentrokan dengan gerilyawan FARC, hanya beberapa hari setelah perundingan perdamaian dimulai di Norwegia. Gerilyawan bersenjata yang membawa "bom tidak biasa" menyerang sebuah patroli militer di kota wilayah baratdaya, Puerto Asis, yang berbatasan dengan Ekuador, kata militer di situs beritanya. Tiga prajurit lain cedera dalam serangan tersebut, kata pernyataan itu. Serangan tengah malam itu dilakukan sehari setelah sedikitnya dua terduga gerilyawan tewas ketika pesawat angkatan udara membom sebuah kamp kelompok pemberontak FARC di daerah pesisir Pasifik dekat perbatasan dengan Panama. FARC, kelompok gerilya kiri terbesar yang masih tersisa di Amerika Latin, diyakini memiliki sekitar 9.200 anggota di kawasan hutan dan pegunungan di Kolombia, menurut perkiraan pemerintah. kelompok itu memerangi pemerintah Kolombia sejak 1964. Pemimpin FARC Timoleon Jimenez pada April membantah bahwa usulan negosiasi dengan pemerintah mengisyaratkan gerilyawan berniat segera menyerahkan diri. Pemimpin FARC itu mengatakan, kesenjangan kaya-miskin di Kolombia harus menjadi salah satu masalah yang dibahas dalam perundingan mendatang. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026