Logo Header Antaranews Sumbar

Korsel Nilai Pertemuan Puncak dengan Jepang Tidak Berguna

Senin, 4 November 2013 15:01 WIB
Image Print

Seoul, (Antara/AFP) - Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye menyatakan bahwa pertemuan puncak dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tidak akan membawa manfaat apa pun karena Tokyo menolak meminta maaf atas "dosa masa lalunya." Pernyataan yang disampaikan dalam wawancara dengan BBC tersebut merupakan gambaran masa depan suram hubungan antara Korea Selatan dengan Jepang--yang merupakan sekutu kunci dalam usaha menghentikan program nuklir Korea Utara. Pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan semasa kekuasaan kolonial Jepang pada 1910 sampai 1945 masih menjadi sumber kemarahan dan kebencian di Korea Selatan, terutama perlakuan terhadap para perempuan yang dipaksa menjadi "wanita penghibur" bagi anggota militer Jepang. Keengganan Jepang untuk menyatakan penyesalan dan menyediakan ganti rugi yang memadai telah diperparah oleh perebutan wilayah kepulauan kecil di Laut Jepang (Laut Timur). "Di antara semua persoalan tersebut, belum ada yang diselesaikan ataupun berusaha diselesaikan," kata Park dalam wawancara yang disiarkan pada Senin menjelang kunjungan Inggris. "Jika Jepang tetap berkeras pada pandangan mereka terhadap sejarah masa lalu dan terus mengulangi komentar mengenai hal tersebut, maka apa tujuan pertemuan puncak antara Korea Selatan dan Jepang? Mungkin akan lebih baik jika dua negara tidak bertemu sama sekali," kata dia menambahkan. "Jika mereka terus menyatakan bahwa permintaan maaf tidak diperlukan dan tidak mengakui kesalahan masa lalunya, maka apa manfaat pertemuan puncak antara kami dengan mereka?" kata Park. Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat telah berusaha mendekatkan kembali dua negara sekutu militernya tersebut di Asia. Namun sejauh ini belum terlihat kemajuan. Perselisihan antara Seoul dan Tokyo menjadi semakin problematis karena di saat bersamaan masyarakat internasional kesulitan membangun konsensus mengenai bagaimana menangani ambisi nuklir Korea Utara. Harapan akan digelarnya kembali perundingan enam pihak (six-party talks) dapat terhambat karena Korea Selatan dan Jepang merupakan peserta. Para pengamat menilai pertemuan puncak antara Abe dan Park menjadi penting karena menggambarkan persatuan melawan Pyongyang. Pesimisme Park terhadap pertemuan puncak tersebut sebelumnya didahului oleh wawancara terpisah dengan surat kabar Prancis Le Figaro pada pekan lalu di mana Park menyatakan bahwa pintu masih terbuka bagi digelarnya pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026