
Kapolri: Motif Teror Penembakan Polisi karena Dendam

Jakarta, (Antara) - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal (Pol) Sutarman mengatakan motif teror penembakan polisi yang terjadi beberapa waktu lalu karena dipicu dendam terhadap penegak hukum. "Motifnya ini dendam. Dalam aksinya, polisi dianggap penghalang. Bahkan dalam buku yang beredar dari kelompoknya dia, polisi dianggap 'thoghut' (setan)," kata Sutarman saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta, Kamis. Sehingga, lanjut Sutarman, ada kekeliruan dalam aspek ideologi yang diyakininya. "Jadi, mereka menganggap menyerang polisi itu halal, ini harus ada yang menegaskan kalu kita itu menegakkan hukum," tukasnya. Dia mengatakan hal tersebut yang melatarbelakangi penyerangan terhadap polisi karena polisi dijadikan target. "Karena kita dianggap penghalang bagi mereka untuk melakukan aksinya, sehingga polisi kerapkali diserang," ucapnya. Hingga Kamis (31/10) pagi, Polri telah menangkap delapan tersangka teror penembakan terhadap polisi. "Kita sudah tangkap delapan. Kemarin enam dan sampai pagi tadi ada dua lagi," katanya. Sutarman mengatakan kedelapan tersangka tersebut bukan otak pelaku penembakan, tetapi hanya pihak yang turut serta membantu membiayai aksi teror, mencarikan senjata hingga menyediakan kendaraan. "Perannya mulai dari perakitan senjata, kemudian dikirimkan pada seseorang dan pada seseorang dikirimkan lagi, sehingga sampai kepada pelaku," paparnya. Dia menjelaskan tersangka tersebut ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat dan di Sulawesi Selatan. Sutarman mengaku sudah mengantongi nama-nama tersangka tersebut. Aksi teror terhadap anggota kepolisian makin santer usai sejumlah personel terluka dan meninggal secara misterius. Tercatat sepanjang dua bulan terakhir, sebanyak empat polisi tewas dan satu polisi lainnya terluka karena ditembak oleh orang tidak dikenal. Pada 27 Juli lalu, anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Metro Gambir, Jakarta Pusat Aipda Patah Saktiyono, selamat dari penembakan di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Lalu, pada 7 Agustus lalu, Aiptu Dwiyatno ditembak oleh orang tak dikenal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Selang sepekan, giliran Aiptu Kushendratna dan Bripka Ahmad Maulana tewas ditembak di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Terakhir, pada 10 September lalu, Aipda (anumerta) Sukardi tewas ditembak orang tak dikenal ketika tengah mengawal enam truk di depan Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
