
Pengamat: Industri Nasional Kurang Optimalkan TI

Jakarta, (ANTARA) - Selama ini pelaku industri nasional kurang mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi (TI) dalam hal pengembangan produk serta upaya untuk mengakses pasar internasional. "Penerapan TI telah menjadi bagian terpenting dalam mendukung pengembangan produk serta perluasan pasar bagi para pelaku industri di tingkat global," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M Chatib Basri, pada acara "Unlocking Indonesia Digital Future" di Jakarta, Senin. Pelaku industri di Indonesia, menurut Chatib, kurang menempatkan TI sebagai bagian penting dalam membangun pasar dan meningkatkan posisi Indonesia di mata dunia. Akibatnya, produk-produk industri dan ekspor yang dihasilkan kurang inovatif. "Negara yang mengoptimalkan penerapan teknologi informasi dalam pengembangan pasar, terbukti mampu menghasilkan produk-produk unggul yang diakui di dunia," paparnya. Jika para pelaku industri nasional bisa mengoptimalkan penggunaan TI, lanjut Chatib, maka pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia bisa jauh lebih baik dari saat ini. "Untuk pasar domestik saja, konsumen kelas menengah di Indonesia saat ini lebih memilih produk impor yang telah mengadopsi inovasi TI, ketimbang produk lokal berteknologi standar. Hal ini membuat daya saing produk lokal semakin menurun," paparnya. Chatib menambahkan, potensi konsumen kelas menengah di Indonesia saat ini sudah 45 juta hingga 60 juta orang. "Sepuluh tahun lagi mungkin saja potensi kelas menengah bisa mencapai 135 juta. Kelas menengah adalah konsumen produk yang memiliki daya beli dan mempercepat pertumbuhan industri," tandasnya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
