
Pengakuan SVL Tingkatkan Pasar Industri Kertas

Jakarta, (Antara) - Pengakuan atas Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Indonesia oleh Uni Eropa (UE) dinilai berdampak positif tak hanya pada usaha sektor kehutanan namun juga mendorong peningkatan pasar industri kertas nasional. Country Sales Head PT Riau Andalan Kertas (RAK), yang termasuk dalam Grup APRIL, Hendriss Wijaya di Jakarta, Minggu mengatakan Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) sebagai produsen kertas premium lebih memperluas pasar ekspornya. Menurut dia, dalam dua tahun ke depan produk kertas yang diberi merek PaperOne itu sudah diekspor hingga ke 100 negara di dunia. "Kami terus melakukan ekspansi. Kalau saat ini PaperOne diekspor ke lebih dari 75 negara, kami optimis dua tahun ke depan bisa diekspor paling tidak ke 100 negara," katanya. Di sela acara bertajuk "Express Yourself With PaperOne Corporate Contest" yang diselenggarakan PT Datascrip Indonesia sebagai distributor PaperOne wilayah Jakarta dan Jawa Barat itu Hendris mengatakan, selama ini kertas premium produksi Indonesia sangat dikenal dan disukai konsumen mancanegara. "Termasuk juga di negara-negara Eropa yang menjadi pangsa pasar ekspor kedua, setelah kawasan Asia, Pasific, Australia dan China," tambahnya. Dia menjelaskan , penerimaan pasar ekspor terhadap kertas Indonesia tidak terlepas dari kualitas produk dan proses pengolahan yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Menurut dia, para pembeli di luar negeri, khususnya Eropa sangat memperhatikan persoalan-persoalan terkait isu lingkungann. Untuk merespon hal ini, lanjutnya, pihaknya terus melengkapi dengan berbagai sertifikasi nasional dan internasional terkait pengelolaan hutan dan produk lestari. Pada 30 September 2013, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan bersama Komisioner Eropa Bidang Lingkungan Janez Potonik, dan Menteri Lingkungan Hidup Lithuania Valentinas Mazuronis menandatangani persetujuan penegakan hukum, tata kelola, serta perdagangan bidang kehutanan (FLEGT-VPA), di Markas Besar UE di Brussels, Belgia. Hal itu merupakan terobosan antara negara produsen dan konsumen, dalam memerangi pembalakan liar serta perdagangannya. Persetujuan ini mencakup sistem lisensi atas produk kayu yang diekspor dari Indonesia ke 28 negara anggota UE, berdasarkan SVLK. Sementara itu mengenai target penjualan produknya sebanyak 15 ribu ton, Hendriss Wijaya mengatakan, sampai tahun ini total penjualan di pasar dalam negeri telah mencapai antara 10 ribu ton lebih. "Pada 2014, kami akan meningkatkan penjualan hingga mencapai 15 ribu ton," katanya. Di pasar dalam negeri, kata dia, kini terjadi pertumbuhan permintaan kertas yang cukup signifikan seiring perkembangan bisnis fotocopy. "Ini juga menjadi pertimbangan kami dalam meningkatkan total penjualan," tambah Hendriss Wijaya. Terkait prospek di pasar dalam negeri, khususnya di wilayah Jakarta dan Jawa Barat, menurut Division Manager Stationary & Office Supplies PT Datascrip Indonesia, Rafael L.Gunawan Adjie, masih sangat terbuka. "Walaupun banyak produk gadget dan elektronik yang bisa menggantikan kertas, faktanya kertas masih dibutuhkan. Karena untuk baca buku misalnya, tentu akan lebih nyaman dengan cetakan di atas kertas, dibanding lewat komputer atau perangkat lain. Jadi prospeknya masih tetap bagus," katanya. Dia mengakui, produknya masih mampu bersaing untuk pangsa kota besar, seperti Jakarta, khususnya di kelas kertas premium. Menurut dia, terus berupaya memperkenalkan produknya kepada masyarakat, salah satunya melalui kegiatan Express Yourself With PaperOne Corporate Contest, yang digelar di perkantoran, kampus dan pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta dan Jawa Barat selama Oktober 2013. (*/wij)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
