
G20 Peringatkan Pemulihan Global "Terlalu Lemah"

Saint Petersburg, (Antara/AFP) - Para pemimpin negara G20 pada Jumat memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global terlalu lemah, dengan risiko pelambatan lebih lanjut dan beberapa negara berkembang menunjukkan kerapuhan tertentu. Mereka mendukung sebuah "rencana aksi Saint Petersburg" untuk meningkatkan pertumbuhan dan lapangan kerja ketika tuan rumah Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa "risiko masihsangat, sangat besar" untuk pemulihan yang rapuh. Menyikapi secara langsung kekhawatiran oleh negara-negara berkembang tentang pengurangan program stimulus oleh bank-bank sentral, para pemimpin berjanji bahwa perubahan kebijakan moneter ke depan akan disesuaikan "secara hati-hati dan dikomunikasikan secara jelas". "Meskipun kita bertindak, pemulihan terlalu lemah, dan risiko-riko tetap condong ke sisi negatifnya," kata para pemimpin dalam komunike akhir mereka setelah pertemuan dua hari mereka di Saint Petersburg, yang dibayangi oleh krisis Suriah. "Prospek pertumbuhan global untuk tahun 2013 telah ditandai penurunan berulang kali selama tahun lalu, keseimbangan global belum selesai, disparitas pertumbuhan regional tetap lebar, dan pengangguran khususnya di kalangan kaum muda tetap tinggi," kata pernyataan itu. Meskipun ada tanda-tanda pemulihan di zona euro dan pertumbuhan berlanjut di negara-negara maju, namun telah melambat di negara-negara berkembang, tambahnya. Pernyataan itu tampaknya menyadarkan perlunya bank-bank sentral seperti Federal Reserve AS untuk akhirnya mengakhiri kebijakan pelonggaran moneter mereka. "Kami tetap memperhatikan risiko dan efek sisi negatif yang tidak diinginkan dari perpanjangan masa pelonggaran moneter," katanya. Tetapi pernyataan itu juga menambahkan : "Bank-bank sentral kami telah berkomitmen bahwa perubahan pengaturan kebijakan moneter mendatang akan terus disesuaikan secara hati-hati dan dikomunikasikan secara jelas." "Rencana aksi Saint Petersburg" ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja, kata pernyataan itu. "Ada tujuan untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas baru, dengan penekanan khusus pada merangsang lapangan kerja kelompok rentan, sebagian besar dari semua pemuda, perempuan, orang penyandang cacat, dan lain-lain," kata Putin dalam konferensi pers terakhirnya. Negara-negara sepakat bahwa mereka juga harus menghindari "kebijakan yang dapat menyebabkan pemulihan terputus-putus atau mendorong pertumbuhan dengan mengorbankan negara-negara lain". Mata uang Brazil dan India telah berada di bawah tekanan serius akibat ekspektasi bahwa the Fed AS akan mengurangi program stimulusnya sementara pertumbuhan telah melambat bahkan di perekonomian raksasa China. "Prioritasnya adalah pertumbuhan dan lapangan pekerjaan. Pertumbuhan yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang layak," kata Kepala Komisi Eropa Jose Manuel Barroso. "Ada kesepakatan yang berkembang tentang apa yang perlu dilakukan," katanya. "Pekerjaan adalah kunci," tambah Perdana Menteri Inggris David Cameron pada sesi tentang pasar tenaga kerja. "Pekerjaan adalah apa yang ingin warga ingin lihat," tambahnya. Putin mengatakan ia berbagi kekhawatiran tentang penghentian program stimulus seperti The Fed AS yang telah membantu negara-negara berkembang untuk mencapai kesejahteraan. "Tetapi kebijakan seperti membagi-bagikan uang gratis, dan kita memahami hal ini dengan baik, tidak bisa bertahan selamanya," kata Putin. Stimulus AS menggratiskan uang yang mendorong para investor kemudian memburu pasar-pasar negara berkembang dan aset-aset berisiko lainnya. Tetapi sekarang dikhawatirkan bahwa likuiditas ini dapatberkurang yang memicu arus keluar besar-besaran. Kelompok BRICS dari pasar negara berkembang terkemuka di dunia -- Brazil, Rusia , India, China dan Afrika Selatan- - pada pertemuan puncak mini menjelang G20 mendesak Amerika Serikat pada Kamis (5/9) untuk menunjukkan kehati-hatian. Menteri Keuangan Prancis Pierre Moscovici mengatakan kepada AFP bahwa, dalam peroalan ekonomi, pertemuan itu sudah lebih konsensual daripada di masa lalu. Dia mengatakan bahwa "apa yang G20 ingin buat di sini adalah kondisi untuk pemulihan yang konsisten." Dalam komunike akhir mereka, para pemimpin G20 juga mendukung arahan yang disusun oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) untuk memberlakukan peraturan yang seragam guna menindak penghindaran pajak oleh perusahaan-perusahaan multinasional besar dan membantu mengisi kas yang terkuras. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
