Logo Header Antaranews Sumbar

Dua Ledakan Bom Hantam Pipa Minyak Yaman

Selasa, 13 November 2012 07:19 WIB
Image Print

Sanaa, (ANTARA/AFP) - Dua ledakan bom menghantam sebuah pipa saluran yang menghubungkan ladang-ladang minyak di Yaman timur dengan terminal di kawasan Laut Merah, kata sejumlah pejabat, Senin. Kedua ledakan itu menghantam pipa saluran di daerah Marib, Yaman timur, pada Minggu larut malam, mengakibatkan kerusakan dan mengganggu pengaliran minyak, kata seorang pejabat keamanan kepada AFP. Satu tim teknisi saat ini sedang memperbaiki kerusakan akibat ledakan itu. Seorang pejabat di kawasan tersebut mengkonfirmasi serangan itu dengan mengatakan, kedua ledakan itu berjarak sekitar 500 meter dan penyerang-penyerang tidak dikenal bertanggung jawab atas insiden tersebut. Kamis (8/11), ledakan bom melumpuhkan sebuah pipa minyak yang dioperasikan perusahaan Korea Selatan di Yaman, yang mengalirkan 8.000 barel minyak mentah per hari, kata beberapa pejabat keamanan dan energi. "Penyerang-penyerang tak dikenal memasang bom di bawah pipa saluran" yang mengalirkan minyak dari daerah Iyadh di provinsi Shabwa menuju terminal Belhaf di Teluk Aden, kata satu sumber keamanan. Peledakan-peledakan serupa terjadi di sejumlah pipa saluran gas yang juga melayani terminal Belhaf pada September, Agustus, Mei dan Maret, dan ledakan terakhir membuat ekspor gas terhenti selama tiga pekan. Pada 30 Oktober, penyerang meledakkan sebuah pipa saluran yang menghubungkan ladang-ladang gas di Yaman timur dengan sebuah terminal laut di wilayah selatan negara itu. Serangan sabotase itu terjadi di lokasi hampir 300 kilometer sebelah utara terminal Belhaf, kata perusahaan LNG Yaman di situs beritanya. Pipa-pipa gas dan minyak menjadi sasaran serangan sabotase di negara miskin Semenanjung Arab itu, yang bergantung pada ekspornya sebagai sumber utama pendapatan. Serangan-serangan itu dituduhkan pada orang suku atau Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP) dan menjadi lebih sering setelah pemberontakan rakyat tahun lalu yang meruntuhkan kekuasaan Presiden Ali Abdullah Saleh. Militan Al Qaida memperkuat keberadaan mereka di wilayah selatan, dengan memanfaatkan melemahnya pemerintah pusat akibat pemberontakan anti-pemerintah yang meletus pada Januari 2011. Ofensif pasukan Yaman yang diluncurkan pada Mei berhasil menghalau militan Al Qaida dari sejumlah kota dan desa di wilayah selatan dan timur yang selama lebih dari setahun mereka kuasai. Sejak ofensif militer dimulai pada 12 Mei, ratusan orang yang mencakup anggota Al Qaida, prajurit, militan lokal pro-militer dan warga sipil tewas. Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu. Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabuh Mansur Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026