
Mata Uang Asia Bervariasi Setelah Risalah Fed

Tokyo, (Antara/AFP) - Mata uang di negara berkembang Asia bervariasi Kamis setelah rilis risalah Federal Reserve tidak mampu memberikan kejelasan mengenai masa depan program stimulus, sementara data manufaktur China memberikan dukungan. Rupee India bangkit kembali pada awal perdagangan di posisi 64,10 terhadap dolar setelah merosot ke rekor terendah 64,72 pada penutupan Rabu, sementara rupiah diperdagangkan pada Rp10.755 terhadap dolar, terendah empat tahun tapi lebih baik dari pada sehari sebelumnya Rp10.945. Baht Thailand berada di posisi 32,11 dibandingkan dengan 31,77. Risalah pertemuan kebijakan Juli Fed menunjukkan anggota dewan memiliki perbedaan pendapat tentang kapan dilakukan pengurangan pembelian obligasi senilai 85 miliar dolar per bulan, yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (QE). Pimpinan Fed Ben Bernanke mengatakan pihaknya belum akan mewujudkan dalam skema tersebut sampai ekonomi dapat berdiri kuat dan angka pengangguran di bawah tujuh persen. Di Tokyo Kamis dolar naik menjadi 98,20 yen dari 97,67 yen di New York Rabu malam, sementara euro dibeli 1,3338 dolar dari 1,3359 dolar. Mata uang tunggal diambil 130,91 yen dibanding 130,46 yen. "Saya pribadi tidak berpikir risalah Fed akan memberikan indikasi yang jelas apakah pengurangan akan dimulai bulan depan atau tidak, tetapi pasar bereaksi pula dengan penurunan saham, kenaikan yields dan pemembelian dolar," kata Kengo Suzuki, ahli strategi mata uang pada Mizuho Securities. Sementara raksasa perbankan HSBC mengatakan pembacaaan awal menunjukkan PMI untuk China naik menjadi 50,1 pada Agustus, dibandingkan dengan pembacaan akhir 47,7 pada Juli. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi dari bulan sebelumnya, sementara di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Data -yang pertama untuk menunjukkan pertumbuhan dalam empat bulan- muncul setelah angka terbaru menunjukkan kenaikan dalam perdagangan China. Perhatian sekarang akan beralih ke rilis klaim pengangguran AS pada Kamis, yang akan memberikan gambaran tentang keadaan ekonomi AS. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
