Logo Header Antaranews Sumbar

Defisit Perdagangan Jepang Juli Hampir Dua Kali Lipat

Senin, 19 Agustus 2013 19:57 WIB
Image Print

Tokyo, (Antara/AFP) - Defisit perdagangan Jepang hampir dua kali lipat pada Juli karena melemahnya yen menjadikan tagihan impor energi negara itu melonjak, meskipun gambaran ekspor cerah, data resmi menunjukkan Senin. Departemen Keuangan melaporkan defisit yang lebih besar dari perkiraan 1,024 triliun yen (10,5 miliar dolar) untuk Juli dari 528.55 miliar yen pada 2012. Itu merupakan penurunan bulanan ke 13 berturut-turut dalam apa yang disebut defisit terpanjang dalam lebih dari tiga dekade. Kesenjangan terjadi sekalipun nilai ekspor melonjak 12,2 persen pada Juli dari tahun sebelumnya, didukung oleh permintaan yang kuat di Amerika Serikat dan China serta Eropa. "Defisit itu jauh lebih besar dari yang dipeerkirakan karena yen yang lemah menjadikan biaya impor energi dan kontribusi terhadap defisit lebih besar," kata Hideki Matsumura, analis Jepang Research Institute. Tapi data menunjukkan bahwa ekspor sudah dalam pemulihan berkat pelemahan yen dan permintaan yang kuat di pasar AS. "Defisit ke depan akan menyusut karena ekspor diperkirakan melebihi impor sebagai dampak yen." Pelemahan yen meningkatkan nilai ekspor dalam mata uang asingketika dikonversi kembali ke mata uang Jepang, yang berdampak pada profitabilitas eksportir seperti Toyota dan Sony. Nilai pengiriman ke pasar utama AS melonjak 18,4 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan data menunjukkan kemajuan dalam ekspor ke zona euro yang sedang bermasalah mencatat kenaikan 16,6 persen. Ekspor ke China naik 9,5 persen, setelah sengketa teritorial antara Tokyo dan Beijing yang merebak lagi tahun lalu, menciderai hubungan perdagangan raksasa Asia itu. Yen telah menurun sekitar 20 persen terhadap dolar sejak akhir tahun lalu, meningkatkan daya saing eksportir di luar negeri dan menggelembungkan nilai pendapatan luar negeri mereka. Namun, tagihan impor energi Jepang telah melonjak sejak Tokyo menutup reaktor nuklir negara itu setelah krisis di Fukushima pada Maret 2011. Biasanya pada suhu musim panas yang sangat menyengat mungkin berkontribusi mendorong permintaan untuk listrik, kata pengamat. Data Senin muncul seminggu setelah angka terpisah menunjukkan ekonomi terbesar ke tiga dunia itu melambat pada kuartal terakhir, memunculkan pertanyaan tentang apakah Tokyo akan melanjutkan kenaikan pajak penjualan yang dikhawatirkan dapat menggagalkan usahanya untuk memacu pertumbuhan. Angka-angka PDB menggambarkan beragam pelemahan konsumsi konsumen tetapi sedikit bukti bahwa perusahaan cukup percaya diri untuk mulai mengeluarkan secara besar-besaran investasi baru dan mempekerjakan lebih banyak pekerja. Keadaan ekonomi Jepang merupakan isu utama bagi pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang mempertimbangkan kenaikan serangkaian pajak penjualan yang bisa meencapai dua kali lipat menjadi 10 persen pada 2015. Pekan lalu, kantor kabinet mengatakan ekonomi tumbuh lebih lemah dari yang diperkirakan 0,6 persen dari kuartal sebelumnya. Laju ekspansi juga melambat pada basis tahunan dengan kenaikan 2,6 persen dari revisi kenaikan 3,8 persen pada kuartal pertama. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026