
Mantan PM Keita Terpilih sebagai Presiden Mali

Bamako, (Antara/AFP) - Mantan Perdana Menteri Mali Ibrahim Boubacar Keita terpilih sebagai presiden negara itu setelah mantan menteri keuangan Soumaila Cisse Senin mengakui kalah dalam pemilihan presiden negara itu. "Saya akan menemuinya untuk mengucapkan selamat kepadanya dan mendoakan ia sukses memimpin Mali," kata Cisse kepada AFP sebelum hasil-hasil resmi diumumkan. Sumber-sumber komisi pemilihan dan keamanan sebelumnya mengatakan Keita unggul setelah dua pertiga suara dihitung pada putaran kedua pemilu itu. Keita- yang lebih dikenal dengan panggilan IBK menghadapi Cisse dalam pemilu putaran kedua, yang akan memberikan satu awal baru bagi negara Afrika barat itu setelah lebih dari setahun konflik politik termasuk kudeta militer dan perang. "Dengan hampir dua pertiga surat suara dihitung, IBK unggul," kata satu sumber yang dekat dengan komisi pemilihan Mali, yang membantu menyelenggarakan pemungutan suara itu. Perkiraan tidak resmi yang diperoleh AFP dan sumber-sumber keamanan juga menunjukkan Keita, 68 tahun unggul. Tetapi Gouagnon Coulibaly, manager kampanye Cisse, mengatakan telah terjadi "kecurangan besar" dalam pemilu itu, tanpa menjelaskan lebih jauh dan menuduh pemerintah peralihan berpihak pada Keita. Pemilu itu, pertama sejak tahun 2007, dianggap sebagai satu hal penting bagi perolehan bantuan lebih dari empat miliar dolar AS yang dijanjikan donor-donor internasional yang menghentikan kontribusi-kontribusi setelah kudeta tahun lalu yang disusul satu pemberontak kelompok garis keras Islam dan satu intervensi militer Prancis. Pemerintah masih menunggu sampai Jumat untuk mengumumkan hasil pemilu itu, yang diselenggarakan setelah tidak seorangpun dari 27 kandidat dalam pemilu putaran pertama 28 Juli meraih mayoritas mutlak. Pemungutan suara dihambat oleh hujan deras di ibu kota Bamako, dan misi pengawas pemilu dari Uni Eropa memperkirakan jumlah pemilih yang memberikan suara mereka "sekitar 45 persen", lebih rendah dari 48,9 persen yang hadir dalam pemilu putaran pertama tetapi masih lebih tinggi dalam pemilu-pemilu sebelumnya. Missi itu mengatakan pemilu itu memenuhi standar internasional "99" persen dari tempat pemungutan suara Mali. "Siapapun yang dipilih akan sah secara demokratis. Itulah keyakinan saya," kata ketua missi itu Louis Michel kepada wartawan di Bamako. Di Brussels, ketua kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton menyambut baik apa yang disebutnya "satu emilu yang "dapat dipercaya dan transparan, kata satu pernyataan dari kantornya. Dia mendesak semua kandidat dan partai menyetujui hasil dan "mendukung pemerintah mendatang dalam usahanya yang harus dilakukannya untuk membangun dan perdamaian yang kekal dan memilih persatuan nasional. Keita dan Cisse, 63 tahun kalah dalam pemilu tahun 2002 dari Amadou Toumani Toure, yang digulingkan junta militer Maret tahun lalu hanya beberapa pekan sebelum masa jabatannya terakhir. Negara berpenduduk lebih dari 14 juta jiwa itu adalah produser emas terbesar ketiga Afrika itu. Penduduk negara terdiri atas suku Tuareg yang berkulit lebih cerah dan etnik Arab yang menuduh kelompok-kelompok etnik subSahara yang tinggal di daerah selatan yang lebih banyak pendudkua dan lebih sejahtera mengabaikan mereka. Satu misi pasukan perdamaian PBB yang beranggotakan lebih dari 6.000 tentara Afrika bertugas menjamin keamanan pada Ahad dan dalam beberapa bulan setelah pemilu itu. Pada akhir tahun ini pasukan itu akan bertambah menjadi 11.200 personil dan 1.400 polisi. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
