
Turki Ingatkan Pemimpin Kursi Suriah Terhadap Rencana Otonomi

Istanbul, (Antara/AFP) - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan terhadap setiap rencana untuk wilayah otonomi Kurdi di Suriah utara pada saat para pejabat bertemu pemimpin kelompok utama Kurdi di negara dilanda perang itu Jumat. Para pejabat pemerintah Turki mengadakan pembicaraan dengan Saleh Muslim, pemimpin Partai Uni Demokrat (PYD) yang dipandang sebagai cabang Suriah dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang di Turki. Erdogan menegaskan laporan-laporan pers dalam pertemuan dan mengatakan "tindakan berbahaya" PYD tersebut akan menjadi agenda. "Mereka akan diberi peringatan yang diperlukan," kata perdana menteri, yang pemerintahnya sedang melakukan perundingan untuk mengakhiri pemberontakan selama tiga dekade yang dilakukan oleh PKK. Kurdi Suriah membuat kemajuan pesat di wilayah utara pada awal pekan ini, mengusir para pelaku jihad dari beberapa desa, pada saat ketidakpercayaan antara Kurdi dan Arab tumbuh. Perkelahian melanda di beberapa desa etnis campuran di provinsi utara Raqa di perbatasan dengan Turki, kata pengamat Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Kekerasan terbaru di daerah-daerah telah mengakibatkan kematian tiga orang di sisi perbatasan Turki, dibunuh oleh peluru nyasar berasal dari tembakan mortir. Sementara PYD Muslim telah mengumumkan rencana untuk mendirikan sebuah negara otonom sementara di daerah-daerah Kurdi, para jihadis juga berupaya untuk membentuk negara Islam di seluruh Suriah. Kurdi membentuk 10 persen dari total penduduk Suriah, dengan sebagian besar tinggal di bagian utara negara yang diperangi itu. Sejak pecahnya pemberontakan terhadap Presiden Bashar al-Assad lebih dari dua tahun yang lalu, kebanyakan orang Kurdi telah mencoba untuk memastikan bahwa wilayah mereka tetap bebas dari kekerasan. Pada pertengahan 2012, pasukan Bashar mundur dari daerah-daerah mayoritas Kurdi dan milisi Kurdi menjadi bertanggung jawab atas keamanan di sana. Meskipun banyak etnis Kurdi memusuhi rezim yang telah memeras mereka selama beberapa dekade, mereka juga mencoba untuk menjaga pemberontak berada di luar dari wilayah yang mereka kuasai untuk menghindari memicu konfrontasi dengan tentara. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
