
Harga Minyak Bervariasi Setelah Data China Melemah

Singapura, (Antara/AFP) - Harga minyak bervariasi di perdagangan Asia pada Rabu, karena melemahnya aktivitas manufaktur China memicu kekhawatiran atas permintaan energi di ekonomi terbesar kedua di dunia itu, kata para analis. Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, naik 20 sen menjadi 107,43 dolar AS per barel di perdagangan sore, sementara minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan September merosot 11 sen menjadi 108,31 dolar AS. Raksasa perbankan HSBC mengatakan data awal indeks pembelian manajer (PMI)-nya untuk China mencapai 47,7 pada Juli, terendah dalam 11-bulan, turun dari 48,2 pada Juni. Angka di atas 50 mengindikasikan pertumbuhan dan berapa pun di bawah poin itu menunjukkan kontraksi. Data akhir akan dirilis pada awal bulan depan. "Data PMI China yang negatif memiliki dampak memperlemah harga minyak," Jason Hughes, kepala perdagangan penjualan di CMC Markets di Singapura, mengatakan kepada AFP. "Pedagang juga akan mengamati dengan seksama data PMI dari Eropa dan tempat lain untuk petunjuk tentang permintaan global," katanya. Hasil terbaru dalam serangkaian data menunjukkan tingkat pertumbuhan dua digit sebelumnya di konsumen energi terbesar dunia itu adalah sesuatu dari masa lalu, karena Beijing terlihat menggeser sumber pendapatan dari ekspor ke konsumsi domestik. Investor sekarang akan melihat rilis mingguan stok minyak mentah AS oleh Departemen Energi pada Rabu waktu setempat. Sebuah survei oleh American Petroleum Institute menunjukkan persediaan turun 1,44 juta barel pada pekan hingga 19 Juli, mengindikasikan permintaan yang kuat karena orang Amerika melakukan perjalanan untuk mengisi liburan musim panas mereka. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
