Logo Header Antaranews Sumbar

Suriah Tolak Upaya Libatkan Pengungsi Palestina Dalam Krisis

Kamis, 8 November 2012 12:47 WIB
Image Print

Damaskus, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Pemerintah Suriah "dengan tegas" akan menolak setiap upaya untuk menyeret pengungsi Palestina di Suriah ke dalam krisis saat ini di negeri itu, demikian laporan kantor berita SANA, yang mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri, Rabu (7/11). Pernyataan kementerian tersebut dikeluarkan di tengah laporan bentrokan yang terjadi setiap hari antara komite Palestina lokal dan gerilyawan bersenjata di kamp pengungsi Palestina di Ibu Kota Suriah, Damaskus. Di dalam pernyataan itu, Kementerian tersebut mengatakan "kelompok teror bersenjata" selama beberapa hari belakangan telah meningkatkan aksi mereka terhadap kamp Palestina di Damaskus dan Provinsi Daraa di bagian selatan negeri tersebut. Ditambahkannya, serangan itu telah merenggut jiwa banya warga sipil yang tak berdosa. "Suriah tak pernah ragu dalam menawarkan pengorbanan finansial dan jiwa bagi orang Palestina agar mereka bisa memperoleh hak sah mereka," kata pernyataan itu. Kementerian mendesak semua kelompok Palestina agar menjauh dari apa yang direncanakan akan dilakukan oleh kelompok bersenjata, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis. Selama krisis 20 bulan, pengungsi Palestina yang dilahirkan di Suriah telah terperangkap di tengah konflik, setelah berusaha cukup lama untuk menjauhkan diri dari kancah pertumpahan darah. Kamp pengungsi Palestina di Damaskus, Yarmouk, telah beberapa kali diserang dalam bentrokan yang berlangsung antara gerilyawan bersenjata dan prajurit militer pemerintah di kabupaten yang berdekatan dan dilanda konflik. Lebih dari 30 orang Palestina telah tewas sejak pekan lalu, setelah beberapa bom menghantam blok permukiman mereka di kamp Yarmouk. Setelah tinggal di Suriah sejak 1948, ketika Israel diproklamasikan, pengungsi Palestina telah bercampur dalam masyarakat Suriah dan menjadi bagian darinya, sehingga nasib mereka tak berbeda dengan nasib warga lain Suriah. Mesin pembunuh tak melewatkan mereka sehubungan dengan peningkatan penggunaan senjata di negara yang telah dirongrong kerusuhan yang telah berubah jadi kerusuhan berdarah dan membuat negara tersebut berada di ambang perang saudara serta pergolakan sektarian. Laporan media belakangan ini telah berbicara tentang pembentukan satu brigade Palestina guna memerangi gerilyawan di bawah payung "Tentara Bebas". Tujuannya ialah untuk bangkit dalam menghdapati komite rakyat di kamp pengungsi Yarmouk yang didirikan oleh Front Rakyat bagi Pembebasan Palestina--Komando Umum (PFLP-GC) --yang dikenal memiliki sikap pro-pemerintah. Oleh karena itu, sudah bukan rahasia lagi untuk berbicara banyak pihak berusaha memainkan kartu Palestina dalam konflik yang berkecamuk di Suriah. Bentrokan sengit di Yarmouk telah berkecamuk sejak lebih dari satu pekan sebelumnya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026